NUGROHO BUDIANTORO (JOKO SUSANTO/Jawa Pos Radar Semarang)
NUGROHO BUDIANTORO (JOKO SUSANTO/Jawa Pos Radar Semarang)
NUGROHO BUDIANTORO (JOKO SUSANTO/Jawa Pos Radar Semarang)
NUGROHO BUDIANTORO (JOKO SUSANTO/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Penasihat hukum terdakwa kasus pembunuhan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Kedungpane Semarang kesal dengan sikap Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang. Penyebabnya meski sudah beberapa kali sidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, tapi JPU terkesan tertutup dan tidak bersedia memberikan salinan dakwaan kepada penasihat hukum terdakwa.

Dua terdakwa pembunuhan adalah Kukuh Panggayuh Utomo, 24, warga Gedangan RT 5 RW 6, Kelurahan Boja serta Rhahmadinata, 21, warga jalan Layur Kp Lawang Gajah No 37 RT 4 RW 7, Kelurahan Dadapsari Semarang Utara. Keduanya didakwa membunuh, seorang narapidana di dalam lapas yakni Brojol Hermawan, 36, warga Semarang. ”Sebagai kuasa hukumnya mestinya kami diberi salinan dakwaan. Tapi JPU selalu berkelit,” kata penasihat hukum terdakwa, Nugroho Budiantoro.

Nugroho Budiantoro mengaku kecewa dengan sikap JPU. Kekecewaannya bertambah ketika JPU kerap tidak memberitahukan jadwal persidangan dimulai. Akibatnya, pihaknya tak bisa mendampingi kliennya saat sedang sidang. ”Anehnya saya dapat dakwaan cuma fotokopi, itu pun diberi majelis hakim. JPU sama sekali tidak memberikan dakwaan. JPU sama saja melanggar hak para terdakwa untuk didampingi penasihat hukum. Nama JPU-nya Evi,” ujarnya.