CARI KEADILAN: Terpidana kasus suap, Pragsono (ketiga dari kiri) saat sidang peninjauan kembali (PK) di Pengadilan Tipikor Semarang, kemarin. (ARRIBATH SAKHA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CARI KEADILAN: Terpidana kasus suap, Pragsono (ketiga dari kiri) saat sidang peninjauan kembali (PK) di Pengadilan Tipikor Semarang, kemarin. (ARRIBATH SAKHA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CARI KEADILAN: Terpidana kasus suap, Pragsono (ketiga dari kiri) saat sidang peninjauan kembali (PK) di Pengadilan Tipikor Semarang, kemarin. (ARRIBATH SAKHA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CARI KEADILAN: Terpidana kasus suap, Pragsono (ketiga dari kiri) saat sidang peninjauan kembali (PK) di Pengadilan Tipikor Semarang, kemarin. (ARRIBATH SAKHA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MANYARAN – Masih ingat dengan Pragsono, hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang yang diganjar hukuman 10 tahun penjara terkait kasus suap? Rupanya, perjuangannya untuk mendapatkan keadilan belum berhenti. Pragsono mengajukan upaya Peninjauan Kembali (PK). Sidang perdananya digelar Senin (21/9) kemarin di Pengadilan Tipikor Semarang. Namun dalam sidang tersebut, tidak ada novum atau bukti baru yang dijadikan dasar Pragsono mengajukan PK.

Penasihat hukum terpidana, Susilowati, mengatakan, PK diajukan pihaknya dengan sejumlah alasan. Di antaranya, adanya pertentangan putusan dan kekhilafan hakim dalam memutuskan perkara kliennya.

Dia menyatakan, terdapat sejumlah keterangan yang tidak dipertimbangkan majelis hakim dalam mengambil putusan. Di antaranya, SMS terpidana Pragsono berisi ”Tok (Heru Kisbandono) sori biar dibawa dulu.” Menurut Susilowati, SMS itu tidak dipertimbangkan sebagai bentuk menyetujui menerima atau tidak.