SEMARANG–Meski Masyarakat Ekomomi Asean (MEA) belum resmi dibuka, serangan tenaga kerja asing sudah mulai terlihat di beberapa industri di dalam negeri. Yang paling mencolok adalah pekerja dari Tiongkok. Di Jateng, mereka lebih banyak mengincar lowongan kerja di industri tekstil.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jateng, Wika Bintang menjelaskan bahwa persaingan akan semakin ketat. Karena tenaga kerja asing khususnya dari Tiongkok punya keahlian di bidang tekstil dan garmen.

“Mereka akan melihat peluang ini menjadi sebuah pekerjaan menjanjikan. Apalagi pabrik tekstil di Jateng, jumlahnya sangat banyak,” ungkapnya.

Fenomena itu, lanjut Wika, bisa menjadi ancaman para pekerja lokal. Jika tidak mau meningkatkan kualitas dalam bekerja, bukan hal yang mustahil jika posisi mereka akan tergeser. “Kalau mutu kerja buruh lokal tak diperbaiki, kami khawatir akan tergerus gelombang tenaga kerja asing yang masuk ke Jateng,” tegasnya.

Di lain pihak, Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jateng, Joko Santosa mengatakan bahwa untuk melindungi pekerja lokal, jumlah tenaga kerja asing dalam satu industri akan dibatasi. Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan pemilik pabrik untuk memperketat tes kerja bagi tenaga asing. “Ini akan kami jalankan secara bertahap,” kata Joko.

Upaya lainnya, kata Joko, pengusaha tekstil juga berupaya meningkatkan mutu produk skala ekspor. Hal ini dilakukan agar produk tekstil lokal tak kalah bersaing dengan barang impor. API, saat ini mendata ada 500.000 buruh tekstil yang bekerja di 50 pabrik di Jateng. Pabrik-pabrik tersebut bergerak di bidang pemintalan benang, penenunan kain, spinning, weaving, dyeing-finishing hingga produksi pakaian (garmen).

“50 pabrik itu yang terdaftar dalam organisasi kami. Padahal di luar itu masih ada sekitar 250 pabrik skala kecil dan menengah yang beroperasi di 35 kabupaten/kota,” pungkasnya. (amh/ida)