Hendi Jamin Keberlangsungan Kesenian Tradisional Laes

444
PEDULI SENI: Calon Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengikat tangan penari Laes dengan memakai tali. Dia menjamin keberlangsungan kesenian daerah yang hidup di kampung-kampung. (Istimewa)
PEDULI SENI: Calon Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengikat tangan penari Laes dengan memakai tali. Dia menjamin keberlangsungan kesenian daerah yang hidup di kampung-kampung. (Istimewa)
PEDULI SENI: Calon Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengikat tangan penari Laes dengan memakai tali. Dia menjamin keberlangsungan kesenian daerah yang hidup di kampung-kampung. (Istimewa)
PEDULI SENI: Calon Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengikat tangan penari Laes dengan memakai tali. Dia menjamin keberlangsungan kesenian daerah yang hidup di kampung-kampung. (Istimewa)

SEMARANG – Asap dupa mengepul dan aromanya merebak saat Hendrar Prihadi datang ke sebuah lapangan di RW 1, Kelurahan Tambangan, Kecamatan Mijen, Sabtu (19/9). Ratusan orang berkumpul di lapangan tersebut. Terlihat beberapa warga memainkan alat musik gamelan dan ada sinden serta penari yang bersiap menyambut Hendi, panggilan akrab Hendrar Prihadi. Dupa, musik gamelan, sinden, serta penari itu rupanya merupakan bagian dari kesenian khas warga kampung setempat.

”Ini namanya kesenian Laes, Pak Hendi. Kesenian asli dari warga sini sudah ada sejak tahun 1970, namun dalam perjalanannya semakin jarang dimainkan karena peralatannya sudah rusak,” kata tokoh masyarakat setempat, Saroso, saat membuka kampanye dialogis yang ditandai dengan pementasan kesenian Laes.

Laes atau ada yang menyebut Laesan ini konon memiliki arti hampa. Sekilas, kesenian ini hampir mirip dengan Sintren dari Cirebon. Seorang penari laki-laki tampil paling awal lewat gerakan gemulai mirip tarian bidadari. Dalam kondisi trans atau setengah sadar, penari pria itu terlihat bermain dengan sesuatu yang tak kasat mata. Penonton yang mengerubungi pertunjukan terpukau oleh alunan musik dan gerakan penari.