Beralasan Karena Hibah

169

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengakui bahwa untuk menurunkan angka kemiskinan di provinsi ini tidaklah mudah. Hal ini disebabkan beberapa faktor yang masih menjadi kendala. Salah satunya adalah penyaluran bantuan hibah yang tidak jadi dilaksanakan.

“Jika indikatornya (kemiskinan) adalah rumah tidak layak huni (RTLH), kita hampir memiliki Rp 36,5 miliar yang tidak bisa dibelanjakan gara-gara polanya hibah,” ungkap Ganjar menanggapi kritikan anggota dewan yang menilai dirinya tidak serius mengurangi kemiskinan.

Padahal, sambung Ganjar, bantuan hibah melalui RTLH merupakan bagian dari road map Pemprov Jateng dalam rangka menyelesaikan berbagai persoalan kemiskinan. Kendati demikian, ia masih memiliki langkah yaitu dengan cara membuat jaring pengaman melalui bidang ekonomi. “Saya ingin kembangkan sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) serta koperasi. Ini sudah diujicobakan di Kudus dengan kredit usaha produktif,” terangnya.

Melalui kredit usaha produktif tersebut, masyarakat akan diberi pinjaman dengan bunga yang rendah. Sehingga dapat menjadi stimulus dalam rangka mempertahankan daya tahan ekonomi masyarakat. Dalam hal ini, Bank Jateng dan PT Jamkrida juga telah dikerahkan untuk membantu masyarakat. “Agar produk petani memiliki nilai jual yang tinggi, kegiatan impor komoditas sementara diestop dulu,” tandasnya.

Sebelumnya, kalangan anggota DPRD menilai Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tidak serius dalam menurunkan angka kemiskinan. Terbukti, jumlah penduduk miskin di Jateng saat ini bukannya menurun, tetapi justru bertambah.

”Data BPS (Badan Pusat Statistik) Jateng, pada Maret 2015 menunjukkan jumlah penduduk miskin atau di bawah garis kemiskinan naik sebanyak 15.210 orang yakni menjadi 4,577 juta orang. Padahal pada September 2014 sebanyak 4,562 juta orang,” ungkap Ketua Komisi B DPRD Jateng M Chamim Irfani.

Chamim menjelaskan, komoditi yang memberikan pengaruh besar untuk kenaikan garis kemiskinan yakni komoditi makanan seperti beras dan rokok sebesar 72,80 persen. Oleh sebab itu, ia mengaku pesimistis target gubernur yang akan menurunkan angka kemiskinan menjadi 9,05 persen dari tahun 2014 sebesar 13,5 persen terealisasi. ”Bukannya menurun, malah akan bertambah,” imbuhnya. (fai/ric)