KENDAL – Empat anak punk diamankan petugas Sapol PP Kendal dalam razia rutin ketertiban umum dan kententraman masyarakat (tribum transmas), kemarin.Mereka terdiri satu anak dibawah umur, dua remaja laki-laki dan satu remaja perempuan. Anak punk ini ditangkap saat mangkal di Pertigaan Ketapang, Kendal dan Perempatan Karangtengah, Brangsong.

Empat anak yang berhasil diamakan kemudian dibawa ke kantor Satpol PP Kendal dan dipotong rambutnya. Petugas juga melakukan pembinaan dan meminta keterangan seputar aktivitas anak-anak Punk tersebut dijalanan. Keberadaan anak punk dinilai sudah meresahkan masyarakat.

Razia dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kendal ini melakukan tes urin untuk mengetahui secara pasti apakah ada yang memakai narkoba atau tidak. “Razia Tribum Tranmas ini kami lakukan secara rutin. Tapi kali ini, kami mendapatkan laporan masyarakat adanya anak-anak punk yang mangkal di perempatan dan pertigaan yang meresahkan masyarakat. Yakni melakukan pemalakan terhadap warga pengguna jalan,” ujar Kepala Satpol PP Kendal, Toni Ari Bowo, Rabu (16/9).

Ia menambahkan, ketika di lampu merah, anak-anak punk tidak hanya mengamen. Tapi meminta uang kepada para pengguna jalan dengan cara memaksa atau memalak dengan ancaman tertentu. Sehingga meresahkan masyarakat yang mengunakan fasilitas jalan umum. “Makanya kami langsung turun ke lapangan untuk menyisir keberadaan anak punk tersebut. Hasilnya, kami berhasil mengamankan empat anak punk. Setelah didata, mereka dibuatkan surat pernyataan dan kami pulangkan ke rumah masing-masing,” kata Toni.

Ini sekaligus peringatan pertama kepada anak-anak punk tersebut. Jika lain hari mereka tertangkap maka akan langsung dilakukan pembinaan dengan diserahkan kepada dinas sosial. Tindakan mereka yang meresahkan masyarakat bisa dijerat dengan pelanggaran Perda nomor 11 tahun 2013 tentang Tribum Tranmas dengan ancaman pidana kurungan dua bulan lamanya.

Dari hasil razia tersebut, petugas BNN berhasil mengidentifikasi satu anak yang diduga kuat mengkonsumsi obat-obatan terlarang. “Satu anak ini akan kami serahkan ke BNN untuk diproses dan ditindaklanjuti,” tambahnya.

Salah seorang anak punk, Ahmad Zaeni mengaku nekat menjadi anak jalanan dan gelandangan lantaran takut dimarahi sama kakaknya. Anak yang baru lulus SD ini mengaku tidak melanjutkan sekolah ke tingkat SMP lantaran tidak memiliki biaya. “Bapak dan Ibu saya sudah meninggal, saya dirumah tinggal sama mas dan mbak saya. Saya kalau pulang dimarahi sama mas saya karena nakal dan sering berantem. Jadi saya memilih jadi anak jalanan dan tidur di SPBU,” aku warga Karangetengah tersebut. (bud/fth)