DEMAK – Dana Bantuan operasional sekolah (BOS) triwulan II yang jumlahnya miliaran rupiah untuk ratusan sekolah/madrasah dibawah Kementerian Agama (Kemenag) Demak hingga saat ini masih belum cair. Kondisi ini membuat sekolah kelimpungan lantaran sudah tidak memiliki biaya operasional.

Bahkan, kondisinya yang kronis sudah pada taraf darurat anggaran. Artinya, sudah tidak ada upaya lagi untuk memperoleh dana operasional. Ini karena sudah banyak sekolah yang terpaksa pinjam uang di bank dan hutang kesana kemari untuk mencukupi biaya operasional pendidikan tersebut. “Kondisi jelas membuat proses pembelajaran di sekolah tidak maksimal,” kata anggota DPRD Demak dari Fraksi Partai Gerindra, Marwan kemarin.

Dia mendesak Kemenag secepatnya mencairkan dana BOS tersebut. Sebab, ia kerap menerima banyak keluhan dari sekolah-sekolah yang kehabisan uang operasional tersebut akibat dana BOS yang macet karena belum cair. “Mestinya, dana BOS ini sudah cair sekitar bulan Mei lalu. Namun, kenyataannya sampai masuk triwulan III (September) sekarang dana dari APBN tersebut justru belum cair,”ungkap Marwan, kemarin.

Dia menambahkan, pihak sekolah sudah banyak yang tombok untuk menggaji kepala sekolah dan guru-guru lainnya. Menurutnya, ada pihak sekolah yang tombok Rp 15 juta perbulan untuk memenuhi kebutuhan operasional sekolah tersebut. “Mereka cari utangan dibank. Seperti dialami MTs Al Ghozali, Desa Kebonbatur, Kecamatan Mranggen,” imbuhnya.

Kinerja atau etos kerja guru otomatis terpengaruh kondisi darurat anggaran yang tak kunjung cair tersebut. K arena banyak guru yang tidak punya sampingan dan hanya mengandalkan upah dari dana BOS. Biasanya setiap guru menerima upah Rp 400 ribu perbulan dari dana BOS. Dana BOS sendiri antara lain dipakai untuk honor guru atau karyawan, untuk kegiatan esktra, kompetensi lulusan, untuk mendukung program serta sarana pembelajaran.