SALATIGA – Puluhan santri di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kelurahan Kalibening, Salatiga, Senin (14/9) kemarin menggelar sholat ghoib dan doa bersama di masjid ponpes setempat. Ini dilakukan sebagai rasa empati dan keprihatinan atas tragedi jatuhnya crane pada proyek pembangunan Masjidil Haram.

Sholat ghoib bersama dan doa tersebut diharapkan, para keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan yang menderita luka-luka segera diberi kesembuhan dan bisa melanjutkan ibadah haji lagi. “Kami turut berduka cita dan prihatin atas tragedi itu, semoga para keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Kami berharap umat Islam yang lain ikut mendoakan para korban,” ujar KH Abda Abdul Malik, pengasuh Ponpes Hidayatul Mubtadiin, kemarin.

Kyai yang pernah menjabat legislatif ini juga berharap, agar jemaah haji yang tidak terkena musibah jatuhnya crane tetap menjalankan ibadah hajinya dengan khusuk. Kejadian itu adalah musibah, dan sudah ditakdirkan Allah SWT. Jalannya sholat itu sendiri berjalan khusuk, setelah sholat ghoib selesai, mereka juga memanjatkan doa bersama dan bersholawat. Selain sholat dan berdoa, para santri juga membawa sejumlah poster pray for mekkah.

Diketahui, ratusan jemaah haji dari sejumlah negara meninggal dunia di Mekkah akibat tertimpa crane yang terjungkal akibat amukan badai pasir. Dari ratusan korban meninggal itu, beberapa diantaranya jemaah haji asal Indonesia. Selain korban meninggal, ratusan jemaah haji lainnya juga menderita luka-luka.(sas/fth)