SEMARANG – Sebagai upaya untuk menanggulangi kekeringan akibat musim kemarau di Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi (Pemprov) mengklaim telah melakukan berbagai langkah. Diantaranya adalah pembuatan sumur pasak yang menelan anggaran Rp 425 juta.

“Sebetulnya kami ingin membuat sumur bor, tapi karena waktunya pendek sehingga membuat sumur pasak khususnya untuk lahan pertanian,” ungkap Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng Teguh Dwi Paryono.

Lebih lanjut Teguh menjelaskan, syarat pembuatan sumur pasak adalah daerah yang telah dinyatakan sebagai darurat kekeringan. Status tersebut ada jangka waktunya sehingga tidak semua kabupaten/kota dapat menerimanya. “Bisa jadi satu kabupaten ada beberapa lokasi. Saat ini kami sedang proses mendatanya,” imbuhnya.

Dia menambahkan, untuk jangka panjang pihaknya juga akan memanfaatkan sungai bawah tanah. Seperti yang dilakukan di daerah Giritontro, Kabupaten Wonogiri. Menurutnya, selama ini air yang berasal dari luweng (goa bawah tanah) tersebut selalu terbuang sia-sia ke samudera. “Padahal airnya tawar,” terangnya.

Dari air sungai bawah tanah tersebut, lanjut Teguh, akan dimanfaatkan untuk mengaliri kebutuhan air baku masyarakat. Lantaran proses pencarian dan pengangkatan tidak mudah, ia mengaku akan berusaha dengan sungguh-sungguh. “Di samping juga melibatkan informasi dari masyarakat tentang keberadaannya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan bahwa beberapa wilayah ini di Jawa Tengah telah dinyatakan sebagai darurat kekeringan hingga Oktober 2015 mendatang. Diantaranya Rembang, Blora, Grobogan, Pati, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Tegal, Pemalang, Purworejo, Jepara, Demak, dan Kebumen.

Dengan adanya pernyataan darurat itu, maka sumber anggaran dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat dimanfaatkan. Dalam hal ini, Pemprov Jateng mendapat bantuan sebesar Rp 9,5 miliar untuk 18 kabupaten/kota. “Di antaranya untuk pipanisasi, dropping air bersih, pengadaan tandon air, pembuatan sumur bor, sumur, pasak dan tiga unit embung,” bebernya. (fai/ric)