SEMARANG – Meroketnya nilai dolar terhadap rupiah sangat memengaruhi pengusaha yang menggunakan bahan baku impor. Salah satunya pengrajin sepatu kulit. Mmereka harus memangkas produksi hingga 70 persen.

Seperti yang dikatakan Tholib. Pengrajin sepatu kulit impor sekaligus pemilik Toko Assalam Shoes di bilangan Ngaliyan ini menuturkan, gara-gara nilai tukar Rupiah merosot, produksinya pun ikut-ikutan merosot. “Dulu sehari bisa 45 pasang sepatu. Sekarang hanya 15 pasang. Soalnya bahan bakunya mahal, tapi harga jualnya tidak bisa ditingkatkan sesuai pembelian bahan baku,” tuturnya.

Dijelaskan Tholib, harga kulit impor dari Itali, mencapai 2 dolar AS per 25 cm. Sementara yang lokal dari Magetan, hanya Rp 17 ribu per 25 cm. Meski begitu, dia tetap bertahan menggunakan bahan baku impor. Menurutnya, jika mebggunakan bahan baku kulit lokal, hasilnya tidak bisa optimal. “Ketebalannya beda. Kenyamanan ketika digunakan juga beda. Bahan baku impor sudah jadi standar kami. Jadi mau tidak mau, ya harus bertahan demi memuaskan konsumen,” papar Tholib.

Senada dengan Komarudin, salah satu pengrajin sepatu kulit di bilangan Pasar Karangayu. Dia juga terpaksa memangkas hasil produksi lantaran belum cukup modal untuk membeli bahan baku impor. (amh/smu)