Lebih Baik Laba Kecil, tapi Laku Banyak

222

MEROSOTNYA nilai tukar rupiah terhadap dolar, membuat banyak pengusaha kelimpungan. Gara-gara semua bahan baku untuk memproduksi barang ikut-ikutan naik. Praktis, biaya operasionalnya membangkak, tapi tidak bisa meningkatkan harga jual lantaran daya beli masyarakat ikut menurun. Tapi itu hanya berlaku bagi para pengusaha besar, yang membeli bahan baku dari luar negeri. Sedangkan bagi para pelaku UMKM, lebih memanfaatkan bahan baku lokal yang tidak terpengaruh dengan krisis global.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang, Litani Sataywati menuturkan bahwa krisis ini justru menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha. Meningkatkan eksistensi dengan ekspansi ke daerah lain.

Kalau melihat krisis moneter dulu, UMKM justru yang menjadi penyelamat perekonomian negara. Mereka memakai bahan baku yang merupakan hasil karya orang dalam negeri, mengolahnya, dan menjualnya dengan harga yang kompetitif. Kalau harganya terjangkau, pastinya masyarakat akan lebih memilih hasil UMKM.

”Krisis ini menjadi kesempatan teman-teman UMKM untuk terus meningkatkan kualitas. Kalau bisa, sampai ekspor juga. Kan rupiah sedang menurun, pasti daya beli orang asing cukup tinggi. Asal harganya tidak dinaikkan, lho!” tegas Lita ketika dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Pihaknya memang mewanti-wanti kepada seluruh pelaku UMKM agar tidak latah dalam menghadapi krisis seperti sekarang. Dia selalu berpesan, lebih baik berlaba kecil tapi sering, ketimbang besar tapi hanya sekali.

”Kalau bagus tapi murah, pasti akan dicari konsumen. Apalagi kalau para konsumen itu bisa sampai getok tular mempromosikan produk kita. Itu yang selalu saya sampaikan kepada teman-teman UMKM,” tutur Lita.

Tidak asal memberi wejangan, Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang juga proaktif mengawal para pelaku UMKM untuk terus meningkatkan produk mereka. Dari pelatihan hingga membantu pemasaran lewat online atau pameran.

”Kalau boleh memberikan bocoran, produk UMKM Kota Semarang selalu dicari daerah lain. Buktinya, ketika pameran di luar Jateng, jualan kami selalu sold out. Mungkin karena harganya yang bersaing. Bahkan sampai sekarang, masih banyak pelanggan dari luar yang memesan produk kami. Jadi sekarang hanya tinggal transfer dan kirim barang saja,” paparnya.

Sedangkan anggota DPRD Kota Semarang, Ari Purbono, mendorong adanya penguatan jaring pengamanan sosial. ”Memang dalam hal ini sudah dibahas dalam KUA PPPAS di Perubahan 2015. Dewan juga sudah mengingatkan supaya pertumbuhan ekonomi terus ditingkatkan. Ini untuk mengantisipasi adanya PHK besar-besaran. Paling tidak harus meningkatkan jaring pengaman sosial,” ungkapnya.

Karena itulah, dewan mendorong dinas terkait untuk meningkatkan produk-produk lokal. Dorongan ini harus terus dilakukan untuk menekan inflasi terhadap anjloknya nilai rupiah.

”Meningkatkan dan mengutamakan produk lokal, bisa mengatasi atau mengurangi beban ekonomi akibat anjloknya nilai rupiah. Dinas harus memfasilitasi dalam meningkatkan produk lokal,” tegasnya.

Demikian juga dengan Panitia Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo. Dirinya lebih mendorong pemerintah untuk lebih meningkatkan serapan anggaran belanja (APBD), sehingga roda ekonomi bisa jalan.

”Kalau serapan ini besar, kan proyek berjalan. Dengan begitu, penyerapan tenaga kerja juga akan tinggi, sehingga bisa mengantisipasi dampak inflasi atau melemahnya nilai rupiah ini,” kata Wakil Ketua Komis D DPRD Kota Semarang.

Selain itu, pihaknya mendorong pemerintah untuk menumbuhkan wirausaha baru untuk merespons dampak krisis yang diiringi pengurangan karyawan atau PHK. ”Saya minta dinas agar menahan laju PHK. Karena itu, Disnakertrans, Dinsospora serta Dinas Koperasi dan UMKM harus ada program yang merespon dampak krisis keuangan. Roda ekonomi diputar supaya masyarakat bisa merasakan dampak positifnya,” pungkasnya. (amh/mha/ida/ce1)