Heroisme dan Dunia Hitam di Semarang

5355

Oleh :
Djawahir Muhammad

KALAU di New York ada daerah yang disebut slum atau ghetto yaitu daerah hitam yang sebagian besar ditempati orang-orang Negro atau Hispanic (orang Amerika Latin, Asia, atau Afrika), dulu di Semarang terdapat juga daerah serupa itu. Di Semarang Utara misalnya, kita mengenal Kampung Kuningan, Perbalan, Tambaklorok, Thengteng dan Kebonharjo. Di Semarang Timur ada Kampung Krese, Meteseh, Kalikayen, Gunungsari, dll. Kampung-kampung tersebut terkenal antara lain karena sebagian penduduknya berprofesi sebagai tukang pukul atau karena suka berkelahi.

Keberandalan wong Semarang mungkin dapat dikenali ketika Semaun (1930) memimpin demo kaum pegawai pegadaian yang merupakan aksi pemogokan pertama dan terbesar di Hindia Belanda. Disusul oleh keberanian para pemuda Semarang melawan Jepang dalam ”Pertempuran Lima Hari Semarang” 14 sampai dengan 19 Oktober 1945. Secara personal, keberanian orang Semarang melawan sesuatu yang ingin dicapainya terekspresikan lewat aksi Kusni Kasdut (1960) yang harus mengakhiri petualangannya di kota ini.

Ketika tahun 1970-an, berlangsung proses pembebasan kawasan Pantai Semarang, sehingga muncul nama Bambang Raya Saputra yang menjadi negosiator antara pengembang PT Tanah Mas dengan para pemilik lahan. Tokoh ini menjadi semakin kuat dengan posisinya sebagai ketua partai dan anggota dewan Kota Semarang. Pada era ini muncul kekuatan baru kelompok-kelompok kampungan semisal Kisromi dari Kampung Kuningan atau kelompok Pandawa Lima yang menguasai Pasar Johar.

Semarang dan kota-kota di seluruh Indonesia menjadi geger pada tahun 1980-an, ketika muncul gerakan penembak misterius alias Petrus yang menghabisi keberingasan para gali. Hampir setiap hari ditemukan mayat terbungkus karung di mana-mana, termasuk di Semarang. Sebelumnya muncul kelompok Fajar Menyingsing di bawah Bathi Mulyono, yang menghimpun para profesional ini.