TERKENDALA INFRASTRUKTUR : Kepulauan Karimunjawa di Kabupaten Jepara masih menjadi salah satu destinasi andalan Jateng. Sayang pengembangan pariwisata di kawasan tersebut masih terkendala belum adanya bandara yang layak. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)
TERKENDALA INFRASTRUKTUR : Kepulauan Karimunjawa di Kabupaten Jepara masih menjadi salah satu destinasi andalan Jateng. Sayang pengembangan pariwisata di kawasan tersebut masih terkendala belum adanya bandara yang layak. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)
TERKENDALA INFRASTRUKTUR : Kepulauan Karimunjawa di Kabupaten Jepara masih menjadi salah satu destinasi andalan Jateng. Sayang pengembangan pariwisata di kawasan tersebut masih terkendala belum adanya bandara yang layak. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)
TERKENDALA INFRASTRUKTUR : Kepulauan Karimunjawa di Kabupaten Jepara masih menjadi salah satu destinasi andalan Jateng. Sayang pengembangan pariwisata di kawasan tersebut masih terkendala belum adanya bandara yang layak. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)

SEMARANG – Proses pengembangan bandara Dewandaru Karimunjawa hingga saat ini belum maksimal. Hal tersebut disebabkan belum adanya Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup (DELH). Sehingga proses pembangunan landasan (runway) untuk pesawat terbang dengan kapasitas yang lebih besar urung dilakukan.

”Tanpa dokumen itu, kami akan terkena sanksi jika tetap melaksanakan. Sebab DELH merupakan syarat wajib dalam sebuah pembangunan proyek perhubungan,” ungkap Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dinhubkominfo) Jawa Tengah, Satriyo Hidayat, kemarin.

Satriyo menjelaskan, saat ini bandara Dewandaru memiliki panjang landasan 1.200 meter. Sehingga hanya mampu disinggahi pesawat kecil dengan kapasitas kurang lebih 12 penumpang. Sesuai rencana, landasan tersebut akan ditambah 200 meter sehingga dapat menampung pesawat yang lebih besar. ”Sekarang baru maskapai Susi Air yang rutin mengangkut penumpang. Kapasitasnya 14 penumpang,” imbuhnya.