Perubahan Bisa Ancam Kesehatan

183

SALATIGA-Perubahan dalam tatanan masyarakat dapat menyebabkan munculnya gejala sosial seperti kemiskinan, kekumuhan, pengungsian penduduk, bahkan bencana alam. Hal tersebut bisa menimbulkan ancaman dan gangguan psikologis terutama emosional.

“Apabila dibiarkan terus menerus, akan berdampak ke berbagai hal seperti ekonomi, politik, dan sosial. Kejadian ini banyak terjadi di beberapa negara besar yang masyarakatnya menganut paham industrial oriented. Apabila hal ini dibiarkan terus menerus dampaknya akan berbahaya bagi kesehatan masyarakat,” tutur Dr. Kiyo Taniguchi dalam kuliah tamu yang digelar oleh Fakultas Psikologi UKSW, di Ruang Probowinoto, Rabu (9/9) kemarin.

Dalam paparannya, Kiyo Taniguchi menyebutkan bahwa kondisi tersebut dapat dipulihkan dengan adanya pendekatan yang berbasis komunitas. Pendekatan yang menekankan peran daya lingkungan dalam mengurangi masalah.

Seperti komunitas di Jepang bernama Wappa no Kai. Komunitas yang sudah berdiri sejak 14 tahun lalu tersebut beranggotakan kaum disabilitas serta masyarakat normal yang hidup bersama-sama tanpa membedakan satu yang lainnya dan saling membantu untuk mencapai tujuan tertentu. Wappa no Kai juga sering disebut dengan komunitas co-creation, karena beranggotakan orang-orang yang peduli akan masalah yang dihadapi orang lain dan bersama menciptakan sebuah tatanan masyarakat baru.

“Selama ini, masalah kesehatan masyarakat belum sepenuhnya diperhatikan oleh pemerintah. Bahkan, di negara maju seperti Jepang. Apabila konsep ini diterapkan mulai lingkup kecil, tidak akan sulit untuk mengembalikan tatanan masyarakat ke dalam konsep sosial,” tegas Social Design Lab Researcher Rikkyo University, Jepang ini.

Sementara itu, Aloysius L Soesilo selaku koordinator menyatakan bahwa kegiatan ini untuk mengenalkan model penanganan kesehatan masyarakat yang dikembangkan di Jepang. Pihaknya menyebut pertolongan kesehatan melalui komunitas menjadi sangat penting sebagai alternatif dari pertolongan medis ataupun psikolog. Hal ini dilakukan dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat. “Diharapkan sharing dari Dr Kiyo Taniguchi dapat membuka perspektif mahasiswa bahwa masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi melalui pendekatan komunitas. Model semacam ini cocok diterapkan di Indonesia, mengingat masih banyak kaum marginal yang belum memperoleh kehidupan yang layak disini,” imbuhnya. (sas/ida)