DOA UNTUK SATINAH: Rombongan Calon Bupati Semarang Mas’ud Ridwan (tengah) bersama sejumlah tokoh agama berdoa untuk kesembuhan Satinah. (PRISTYONO HARTANTO/RADAR SEMARANG)
DOA UNTUK SATINAH: Rombongan Calon Bupati Semarang Mas’ud Ridwan (tengah) bersama sejumlah tokoh agama berdoa untuk kesembuhan Satinah. (PRISTYONO HARTANTO/RADAR SEMARANG)
DOA UNTUK SATINAH: Rombongan Calon Bupati Semarang Mas’ud Ridwan (tengah) bersama sejumlah tokoh agama berdoa untuk kesembuhan Satinah. (PRISTYONO HARTANTO/RADAR SEMARANG)
DOA UNTUK SATINAH: Rombongan Calon Bupati Semarang Mas’ud Ridwan (tengah) bersama sejumlah tokoh agama berdoa untuk kesembuhan Satinah. (PRISTYONO HARTANTO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN- Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Dusun Mrunten RT 02 RW 03, Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Satinah, 42, Selasa (8/9) malam, akhirnya sampai di kampung halaman. Kedatangan Satinah yang diantar tim dari Kementerian Luar Negeri dan BP3TKI serta Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jateng langsung disambut isak tangis keluarga dan para tetangga. Hingga Rabu (9/9) kemarin, sejumlah kerabat dan keluarga terus berdatangan untuk melihat kondisi Satinah yang lolos dari hukuman pancung di Arab Saudi. Salah satunya rombongan tokoh agama dan calon Wakil Bupati Semarang, Mas’ud Ridwan bersama sejumlah tokoh PKB dan Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Semarang yang menaruh simpati, juga datang membezuk untuk berdoa untuk kesembuhan Satinah.

Satinah sendiri mengaku kapok menjadi TKW, dan akan berupaya membuka kursus menjahit dan menyulam bagi masyarakat. Selain itu, Satinah akan mengajar baca dan menghafal Alquran bagi anak-anak di desanya. “Alhamdulillah, Allah masih memberikan umur panjang, sehingga saya bisa bertemu lagi dengan keluarga. Terima kasih atas doanya ini semua sudah menjadi kehendak-Nya,” tutur Satinah lirih.

Di teras rumah bercat abu-abu itu, Satinah duduk di kursi roda bersama keluarga, kerabat, dan para tetangga. Satinah bercerita dirinya belum banyak melakukan kegiatan, sebab masih dalam masa pemulihan dari sakit stroke. Sehingga Satinah hanya bercengkrama dengan sanak saudara. Untuk sementara ini Satinah baru akan mencari pengobatan untuk sembuh dari sakitnya.