”Anggaran pembangunan itu sangat besar, kurang lebih mencapai Rp 35 milliar. Sehingga monitoring ini bertujuan agar pembangunan pasar bejalan sesuai dengan regulasi, mengakomodasi kepentingan pedagang maupun pembeli serta mencegah terjadinya korupsi. Pembentukan tim monitoring ini juga untuk mengembangkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin, (7/9) kemarin.

Menurut Direktur Pattiro Semarang, Dini Inayanti Pasar Johar akan dibangun sebagai pasar permanen baru dapat dimulai konstruksinya pada tahun 2017. Sedangkan pembangunan konstruksi diprediksi dapat diselesaikan dalam 3 tahun anggaran atau selesai tahun 2019. Sehingga pedagang Pasar Johar diprediksi akan menempati pasar sementara kurang lebih selama 4 tahun.

”Jangka waktu 4 tahun bukan waktu yang pendek. Maka pembangunan pasar sementara harus memperhatikan aspek keamanan, kesehatan dan kenyamanan pedagang dan pembeli. Sehingga kalau hasilnya tidak layak akan merugikan antara pedagang dan pembeli atau pengunjung,” tegasnya.

Pihaknya mengakui, sekarang ini terus melakukan pencermatan DED (detail engineering design) terkait perencanaan pembangunan lapak sementara pasar Johar di MAJT.

Menurut hasil diskusi dari pencermatan tersebut, masih ada kejanggalan yang harus dipertegas dalam pembangunan nantinya. Selain itu, dalam DED masih ada spesifikasi yang kurang berkualitas.

”Seperti pintu bangunan kamar mandi bahan bakunya tidak jelas, padahal kan tempat itu dipakai 4 tahun. Jadi harus bener-bener kuat dan tidak mudah rusak. Belum lagi, tempat penampungan itu juga belum jelas, mau dibuat los, lapak atau kios. Khawatirnya nanti hasil pembangunan seperti bangunan Pasar Bulu, kualitas juga tidak bagus. Belum ditempati dan dipakai pedagang, sudah rusak semua,” terangnya.