Urung Eksekusi Mantan Bupati Kendal

243

KENDAL – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kendal sampai saat ini masih kesulitan melakukan eksekusi mantan Bupati Kendal, Siti Nur Markesi. Yakni atas putusan Pengadilan Tinggi Tipikor Semarang dalam kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) 2010.

Kejari berdalih kesulitan melacak keberadaan Nurmarkesi lantaran melarikan diri. Ketua DPC Partai Golkar Kendal itu, menghilang saat akan dilakukan eksekusi 11 Agustus lalu. Penyidik sudah mempertanyakan keberadaan Markesi pada orang-orang terdekat dan keluarganya. Sayangnya tidak ada yang mengetahuinya.

Alasan eksekusi putusan Pengadilan Tinggi Tipikor Semarang Nomor 9/Pid.sus-tPK/2015/PT SMG. Dalam putusan tersebut PT Tipikor menyatakan Markesi terbukti sacara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi penyaluran dan bansos 2010. Ia divonis dengan pidana badan tiga tahun penjara dan denda Rp 50 juta.

Dalam putusan tersebut, PT Tipikor Semarang juga meminta agar terdakwa Markesi ditahan dalam rumah tahanan negara (rutan). “Kami hanya menjalankan perintah dari pengadilan yang memerintahkan kami untuk melakukan penahanan terhadap terdakwa (Markesi), Red),” kata Kejari Yeni Andriyani, Minggu (6/9).

Saat ini Markesi masih melakukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung (MA) RI. Tapi Kejari bersikueh bakal melakukan penahanan atas putusan pengadilan ditingkat banding. Perihal kasasi, sudah sudah masuk hak dari terdakwa. Selain terdakwa Markesi, jika penuntut umum Kejari Kendal juga sudah melakukan upaya kasasi serupa. Atas dasar inilah, kemudian Kejari memunda penahanan Markesi sampai ada putusan berkekuatan hukum tetap yang dikeluarkan MA. “Kami menunggu sampai nanti ada putusan kasasi dari MA, jika dinyatakan bersalah maka segera kami lalukan eksekusi. Karena kami sendiri juga kesulitan mengendus keberadaan terdakwa,” paparnya.

Kasipidsus Kejari Kendal, Zaiful Alim Said menambahkan meskipun ada upaya kasasi tapi Kejari Kendal sudah menetapkan Markesi masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Kasus ini juga menjerat tiga terpidana lain, yaitu Ahmad Rikza, Abdurrohman, dan Siti Romlah. Berbeda dengan Nurmarkesi, ketiga terpidana itu menjalani masa tahanan di penjara. (bud/fth)