SEMARANG – DPRD Jateng menyayangkan pengurangan jumlah manasik haji di provinsi ini. Sebab, tahun 2015 ini hanya diselenggarakan 6 kali manasik. Yakni di tingkat kabupaten/kota 2 kali dan di tingkat kecamatan 4 kali.

Sekretaris Komisi A DPRD Jateng, Ali Mansur HD mengatakan manasik merupakan salah satu faktor penting yang sangat berpengaruh terhadap kelancaran dan keberhasilan dalam pelaksanaan ibadah haji. ”Sayang tahun ini dikurangi dengan alasan efisiensi anggaran,” katanya.

Ali Mansur menambahkan, manasik haji tahun ini lebih berfokus pada persoalan ibadah. Sedangkan dua bidang yang tidak kalah pentingnya yaitu manasik bidang kewanitaan dan kesehatan justru ditiadakan. ”Padahal tahun kemarin itu juga dilakukan. Dan ada 10 kali pertemuan. Yakni 3 kali pertemuan di tingkat kabupaten/kota dan 7 kali manasik di tingkat kecamatan,” imbuhnya.

Melihat kondisi di lapangan, pihaknya memandang bahwa ke depan frekuensi manasik harus ditambah menjadi 11 kali. Dengan komposisi 10 kali manasik seperti tahun-tahun sebelumnya (ada bidang kewanitaan dan kesehatan), ditambah 1 kali manasik bidang teknis. Meliputi pengenalan pesawat, pengenalan maktab, pengenalan peralatan modern (lift/eskalator), pengenalan transportasi dan lain-lain. ”Sebab, lebih dari 70 persen calhaj di Jateng belum pernah naik pesawat. Jadi harus diberitahu apa yang diperbolehkan dibawa dalam pesawat, cara duduk, cara penggunaan toilet dan lainnya,” tambahnya.

Untuk pengenalan maktab dalam persepsi para calhaj, maktab yang digunakan seperti dekade 10 tahun yang lalu. Sehingga para calhaj banyak yang membawa peralatan masak nonelektrik. Padahal saat ini sebagian besar maktab adalah hotel bintang 3 dengan segala fasilitasnya. Sedangkan pengenalan peralatan modern calhaj perlu dibekali cara menggunakan lift dan eskalator. Sebab maktab di Madinah maupun di Makkah rata-rata menggunakan lift, dan di Masjidil Haram ada lift dan eskalator. ”Ke depan selain pengenalan seperti itu, calhaj yang belum pernah bersentuhan dengan alat modern, sebaiknya diperkenalkan dengan orientasi atau praktik lapangan. Minimal untuk ketua rombongan dan ketua regunya agar haji bisa berjalan lancar,” tambahnya. (fth/ric/ce1)