HARUS PULANG SORE: Aktivitas siswa di salah satu SMK Negeri di Kota Semarang. Sejak diterapkan kebijakan lima hari sekolah, para siswa harus pulang hingga sore hari. (DOK. JAWA POS RADAR SEMARANG)
HARUS PULANG SORE: Aktivitas siswa di salah satu SMK Negeri di Kota Semarang. Sejak diterapkan kebijakan lima hari sekolah, para siswa harus pulang hingga sore hari. (DOK. JAWA POS RADAR SEMARANG)
HARUS PULANG SORE: Aktivitas siswa di salah satu SMK Negeri di Kota Semarang. Sejak diterapkan kebijakan lima hari sekolah, para siswa harus pulang hingga sore hari. (DOK. JAWA POS RADAR SEMARANG)

PELAKSANAAN sekolah lima hari di tingkat SMA dan SMK masih menuai pro dan kontra. Para siswa merasa kesulitan dalam mengatur jadwal belajar di rumah. Hal itu dikarenakan, waktu belajar siswa lebih banyak dihabiskan di sekolah. Padahal kemampuan setiap siswa dalam menerima materi yang diberikan guru berbeda. Ada siswa yang mengaku senang dan lebih mengerti tentang materi pelajaran ketika diajarkan oleh guru di sekolah. Namun ada pula yang sebaliknya. Tak sedikit siswa yang lebih memilih belajar di rumah dengan alasan berbeda-beda.

Seperti yang diungkapkan seorang siswi SMA Negeri 2 Semarang, Pandan Galuh Dewanti. Siswi kelas XII tersebut sejak diberlakukannya sekolah lima hari, merasa terforsir tenaga dan pikirannya karena harus belajar selama 10 jam setiap hari, dalam lima hari. Lamanya belajar tersebut, belum ditambah jam ekstrakurikuler.

”Ada positifnya, ada negatifnya. Menurut aku dan teman-teman, sisi positifnya kita punya waktu weekend lebih lama dan bisa refreshing di hari Sabtu-Minggu. Cuma itu sih senengnya. Nah negatifnya tuh banyak banget. Kita bener-bener diforsir, karena harus mengikuti pelajaran selama 10 jam dalam 5 hari sampai sore. Padahal itu belum termasuk ekstrakurikuler,” kata Pandan kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (6/9).