“Demo” Proyek Tol Bawen–Solo

222
TIDAK SUNGGUHAN: Sejumlah mahasiswa dan warga yang terlibat aksi demo pembangunan tol, kemarin. (Dinar sasongko/jawa pos radar semarang)
TIDAK SUNGGUHAN: Sejumlah mahasiswa dan warga yang terlibat aksi demo pembangunan tol, kemarin. (Dinar sasongko/jawa pos radar semarang)
TIDAK SUNGGUHAN: Sejumlah mahasiswa dan warga yang terlibat aksi demo pembangunan tol, kemarin. (Dinar sasongko/jawa pos radar semarang)

SALATIGA – Puluhan massa berunjuk rasa di depan kantor Kelurahan Pabelan, kemarin. Gabungan mahasiswa dan warga korban terkena dampak proyek tol Bawen – Solo di wilayah Pabelan menuntut hak dalam pembebasan lahan proyek diperjelas. Suasana ricuh, saat lurah yang sudah ditunggu tak kunjung muncul dihadapan pada demonstran.

Melihat kondisi memanas, akhirnya Polres Ungaran menerjunkan satu regu polisi untuk meredakan keadaan. Tapi sayang massa yang sudah terlanjur emosi terus memaksa untuk dapat bertemu dengan pihak kelurahan.

Beruntung aksi itu tidak berlangsung lama, amuk massa meredam setelah dilakukan negosiasi antara pimpinan demonstran, tokoh masyarakat, serta tim negosiator dari Polres Ungaran. Meskipun awalnya negosiasi berlangsung alot, namun akhirnya tim negosiator berhasil meredakan seluruh demonstran.

Ya inilah skenario yang disusun Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) guna pembuatan video pembelajaran. Pembuatan video yang berlokasi di depan kampus UKSW, Jumat (4/9) pagi ini merupakan hasil kerjasama antara Fiskom UKSW dan Pusdik Binmas Lemdikpol Banyubiru.

Produser kegiatan, Sih Natalia Sukmi mengatakan video ini merupakan bagian dari modul pembelajaran yang akan disebarluaskan kepada seluruh anggota kepolisian Indonesia. Pembuatan video berdurasi 50 menit tersebut melibatkan sedikitnya sepuluh orang kru yang terdiri dari mahasiswa dan profesional di bidangnya.

Natalia menambahkan, selama ini bahan ajar yang digunakan oleh Lemdiknas baru sebatas modul tertulis. “Kami mencoba membantu membuat media pembelajaran dalam bentuk audio visual, hal ini tentu saja diharapkan akan mempermudah proses belajar mengajar bagi kepolisian Indonesia. Hal ini sekaligus sebagai bentuk pengabdian UKSW sebagai lembaga pendidikan bagi lembaga lainnya,” terang Natalia.

Senada, Iptu Suharno, selaku tenaga pendidik di Pusdik Binmas Polri sekaligus sutradara pembuatan video pembelajaran ini menerangkan materi audio visual penting dalam sebuah pembelajaran. Mengingat tugas dinas polisi yang hampir 70 persen nya adalah menjalin komunikasi kepada masyarakat, maka perlu sebuah media pembelajaran yang tidak sebatas tulisan.

Iptu Suharno menerangkan tema yang diangkat dalam video pembelajaran ini adalah taktik dan teknik negosiasi. “Guna meningkatkan kemampuan polisi dalam bidang negosiasi, kami berusaha membuat sebuah media pembelajaran berupa video. Salah satu negosiasi yang hendak kami ajarkan adalah negosiasi saat menghadapi unjuk rasa,” imbuhnya. (sas/fth)