Awalnya Rabun Jauh, Divonis Buta saat Kuliah

Eka Pratiwi Taufanty, Tunanetra yang Berprestasi di Ajang Internasional

241
TETAP SEMANGAT: Eka Pratiwi Taufanty saat mempresentasikan gagasannya di ajang World Blind Union Hongkong. (EKA FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
TETAP SEMANGAT: Eka Pratiwi Taufanty saat mempresentasikan gagasannya di ajang World Blind Union Hongkong. (EKA FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
TETAP SEMANGAT: Eka Pratiwi Taufanty saat mempresentasikan gagasannya di ajang World Blind Union Hongkong. (EKA FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

Meski memiliki keterbatasan dalam penglihatan, tak membuat Eka Pratiwi Taufanty hilang asa untuk meraih prestasi. Mahasiswi Sastra Inggris S1 Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) ini baru saja masuk 8 besar di ajang World Blind Union di Hongkong. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO

KESEHATAN merupakan anugerah Tuhan yang diberikan kepada hamba-Nya. Sehingga sebagai manusia patut mensyukuri anugerah tersebut. Kesempurnaan dan kesehatan baik fisik maupun mental selalu jadi harapan semua orang. Namun takdir Tuhan terkadang berkata beda. Setidaknya ini yang dialami Eka Pratiwi Taufanty. Mahasiswi Sastra Inggris Udinus ini mengalami gangguan penglihatan sejak duduk di bangku kelas VIII (kelas 2) SMP.

Eka menceritakan, awalnya fungsi kedua matanya normal seperti teman-temannya. Namun saat SMP kelas VIII itu, ia mengalami gangguan rabun jauh, hingga mengharuskannya memakai kacamata. Selain itu, Eka juga terbiasa menggunakan tetes mata ketika matanya terasa sakit. Tak diduga, kebiasaannya itu justru memperparah gangguan penglihatannya. Hingga 6 tahun kemudian, dia divonis oleh dokter menderita penyakit glukoma yang membuat kedua matanya tidak dapat melihat apa pun.