SEMARANG – DPRD Jawa Tengah sangat menyayangkan sikap pemprov yang telah menjual 25 persen saham di PT Trans Marga Jateng (TMJ) kepada PT Astratel Nusantara. Sebab, operator yang memiliki dan mengelola ruas jalan tol Semarang–Solo (SS) sepanjang 72,64 km itu dinilai mulai menghasilkan.

”Sebenarnya, proyek jalan tol Semarang-Solo ini memiliki keuntungan sendiri, karena mendapat dukungan dana dari APBN sebesar Rp 1,8 triliun. Yang kami sesalkan kenapa sekarang justru dijual saat mulai menampakkan hasilnya meski belum maksimal,” ungkap anggota Komisi D DPRD Jateng Abdul Aziz.

Aziz menjelaskan, penyertaan modal Pemprov Jateng di proyek jalan tol SS telah dimulai sejak 2006. Pemprov Jateng mulai serius menambah modal penyertaan sejak Gubernur Jateng dijabat Bibit Waluyo hingga 2013 lalu. Menurutnya, saat itu Bibit Waluyo begitu gigih untuk segera merealisasikan pembangunan jalan tol dengan ikut menanamkan saham. ”Ternyata oleh Gubernur Ganjar Pranowo dijual begitu saja kepada pihak ketiga senilai Rp 780 miliar tanpa ada konsultasi dengan dewan,” imbuhnya.

Hal senada juga diungkapkan anggota Komisi D lainnya Muhammad Ngainurrichald. Ia menjelaskan, semula pemprov memiliki saham di proyek jalan tol SS sebanyak 26 persen. Saham tersebut kini tinggal satu persen lantaran telah dijual kepada pihak ketiga PT Astratel dengan harga yang cukup murah. Terlebih lagi tanpa melakukan konsultasi dengan dewan.

”Ini sangat mengecewakan. Menurut penjelasan dari PT SPJT (Sarana Pembangunan Jawa Tengah) selaku perusahaan yang ditunjuk untuk mengelola saham jalan tol dikarenakan pemprov mengalami kerugian di awal. Padahal semua tahu proyek jalan tol itu untuk jangka panjang, bukan untuk jangka pendek,” terang politisi PPP itu.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membantah jika sebelumnya tidak pernah mengomunikasikan dengan kalangan dewan. Menurutnya, penjualan saham dilakukan secara terbuka. ”Ini sudah lama, kenapa baru dipertanyakan sekarang,” terangnya.

Dia menjelaskan, pertimbangan penjualan saham dilakukan karena terjadi penurunan nilai (delusi) terus-menerus. Sementara keuntungan yang akan didapat baru nanti pada 2023 mendatang. Jika hal ini tetap dipertahankan maka dikhawatirkan akan habis. Oleh karenanya, sebagai solusi adalah melepas atau menjualnya dengan masih menahan sedikit saham. ”Ketika ada fresh money kita bisa buy back (membeli kembali). Meski bukan pemegam saham mayoritas, saya sudah lobi dan dipersilakan,” tandasnya.

Untuk diketahui, komposisi kepemilikan saham jalan tol SS sepanjang 72,64 km yang dikerjakan PT TMJ masing-masing adalah PT Jasa Marga 73,9 persen, PT Astratel Nusantara 25 persen, dan PT SPJT 1,1 persen. (fai/ric/ce1)