Jutaan Tenaga Konstruksi Belum Bersertifikasi

139
BERI PELATIHAN: Sebanyak 120 tenaga konstruksi di Jateng mengikuti program sertifikasi di Polines, kemarin. (Miftah/Jawa Pos Radar Semarang)
BERI PELATIHAN: Sebanyak 120 tenaga konstruksi di Jateng mengikuti program sertifikasi di Polines, kemarin. (Miftah/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ternyata masih banyak persoalan yang dihadapi tenaga kerja konstruksi. Bahkan, saat ini tercatat sebanyak 1,5 juta tenaga kerja konstruksi belum bersertifikasi. Padahal, legalitas ini sangat penting agar mereka memiliki kemampuan dan keahlian mumpuni di bidangnya.

Kepala Balai Pemberdayaan dan Pengawasan Jasa Konstruksi (BPPJK) Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Tengah, Nunuk Rini Murwani mengatakan, di Jateng baru sekitar 13 ribu tenaga konstruksi bersertifikasi. Jumlah ini masih sedikit jika dibandingkan kebutuhan, apalagi Jateng mencanangkan program infrastruktur. ”Jateng masih kekurangan tenaga konstruksi yang bersertifikasi. Kebutuhannya per daerah saja ribuan,” katanya saat pembukaan Sekolah Tukang Semen Tiga Roda (Setara) yang digagas PT Indocement di Polines Semarang, kemarin.

Sebenarnya tenaga konstruksi di Jateng cukup potensial karena dikenal gigih dan rajin. Namun karena belum bersertifikasi, akhirnya bisa terancam dengan tenaga lain. ”Kami punya perda untuk pekerjaan harus melibatkan tenaga lokal. Jadi dengan adanya sertifikasi ini bisa membuat mereka benar-benar profesional,” ujarnya.

Silakan beri komentar.