UPAL : Petugas Sat Reskrim Polres Pekalongan, saat melakukan gelar perkara uang palsu, dengan tiga tersangka, kemarin. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
UPAL : Petugas Sat Reskrim Polres Pekalongan, saat melakukan gelar perkara uang palsu, dengan tiga tersangka, kemarin. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)

KAJEN – Maraknya peredaran uang palsu di Kabupaten Pekalongan yang sering dijumpai pada pedagang kaki lima akhirnya terungkap. Pengungkapan ini terjadi setelah Sat Reskirm Polres Pekalongan menangkap Mahbub Junaedi bin Umar, 36, wiraswasta, Desa/Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan ketika melakukan transaksi dengan menggunakan uang palsu pecahan Rp 100 ribu di sebuah warung nasi goreng.

Bermula saat Mahbub membeli beberapa bungkus nasi goreng di Desa Bojongpinggir, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan milik Daryono dengan menggunakan uang pecahan seratus ribu. Karena tidak ada kembalian, akhirnya Daryono menukarkan pada warung lain di sebelahnya. Namun saat Daryono kembali ke warungnya, Mahbub sudah pergi tidak mengambil uang kembaliannya tersebut. “Saat saya tukar ke warung lain, ternyata uang Rp 100 ribuan tersebut palsu. Ketika akan saya kembalikan ke Mahbub ternyata sudah pergi,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan karena menerima uang palsu bukan yang pertama, akhirnya perihal uang palsu tersebut dilaporkan ke Polres Pekalongan. Menurutnya, Mahbub ketika membeli nasi goreng di warung miliknya selalu pada saat pembeli ramai dan pada malam hari. “Karena ciri-ciri orangnya saya tahu, dan hal ini bukan yang pertama, makanya saya laporkan saja ke Polres Pekalongan,” katanya.

Mahbub akhirnya dapat ditangkap Sat Reskrim Polres Pekalongan, pada Kamis (27/8) lalu, di rumahnya. Saat dilakukan penggeledahan di dalam kamarnya, ditemukan beberapa lembar uang tunai palsu Rp 14.750.000, laptop merek Axio, Printer Fuji Xerox, kertas emas, gunting, modem, serta puluhan lembar kertas uang palsu yang belum dipotong.

Dari pengakuannya saat diperiksa di Mapolres Pekalongan, Mahbub menjelaskan bahwa uang palsu tersebut, juga sudah diberikan kepada Tasuri bin Mulyo, 39, warga Desa Karangjompo RT 03 RW 05 Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, dan Casnadi Bin Watin, 42, warga Desa Kalimojosari RT 16 RW 04, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan.

“Rencanannya uang tersebut akan diedarkan pada bulan September mendatang, namun saat belanjakan di warung nasi goreng, pemilik warung mengetahui bahwa uang tersebut palsu,” katanya.

Kasat Reskrim Polres Pekalongan, AKP Bery, Sabtu (29/8) saat melakukan gelar perkara menjelaskan berdasarkan pengakuan Mahbub, dua pelaku lainnya yakni Tasuri dapat ditangkap di Internasional Batik Center Wiradesa, saat akan berbelanja batik dengan uang palsu tersebut. Demikian juga dengan Casnadi ditangkap di rumahnya, dengan menyimpan beberapa lembar uang palsu pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu, yang rencananya akan digunakan pada daerah lain, untuk berbelanja barang dagangannya.

“Tersangka pertama yakni Mahbub berperan membuat dan mencetak uang pecahan seratus ribu rupiah, sedangkan tersangka kedua yakni Tasuri dan tersangka ketiga Casnadi, mereka yang menyimpan dan menggunakan uang yang diduga palsu tersebut, untuk melakukan transaksi,” jelasnya. Ketiga tersangka akan dijerat Pasal 36 ayat 1, 2 dan 3 UU RI No.07 tahun 2011 tentang mata uang, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahu penjara. (thd/ric)