INSPIRATIF: Meski hanya anak seorang pemulung, Sony mampu masuk Fakultas Kedokteran Undip. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INSPIRATIF: Meski hanya anak seorang pemulung, Sony mampu masuk Fakultas Kedokteran Undip. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Berasal dari keluarga tidak mampu, Sony Budiyanto mampu lolos masuk Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Ia mendapatkan beasiswa Bidikmisi. Seperti apa kisahnya?

EKO WAHYU BUDIYANTO, Tembalang

APA yang dirasakan oleh Sony Budiyanto mungkin tidak pernah diduga sebelumnya. Mahasiswa baru asal Lamongan Jatim itu, mengaku memang sejak lama ingin kuliah di Fakultas Kedokteran karena sejak kecil bercita-cita menjadi seorang dokter. Kini, pintu untuk menggapai cita-citanya mulai terbuka. Anak seorang pemulung ini lolos diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Undip.

”Terus terang, latar belakang keluarga saya memang tidak mampu dari segi ekonomi. Kebetulan kedua orang tua saya sudah bercerai sejak saya masih duduk di bangku kelas XI SMA. Sejak itu, ibu kembali ke Semarang karena asalnya Semarang, dan bapak tetap di Lamongan kerja serabutan. Sebelumnya juga jadi pemulung,” kata Sony kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dia mengaku bersyukur dapat diterima di Undip melalui jalur SNMPTN yang merupakan jalur prestasi. Sony menjelaskan, bapaknya merupakan seorang pemulung. Namun itu tidak membuat tekadnya untuk menggapai kesuksesan. Prestasi yang ditorehkan Sony pun sudah mulai terlihat saat masih duduk di bangku SMP. Saat itu, Sony kerap memperoleh beasiswa, karena prestasi akademiknya bagus.

Berbeda dengan anak seusianya kala itu, Sony lebih memilih belajar sepulang sekolah sebagai rutinitas hariannya. Saking asyiknya belajar, tak terasa hingga lewat tengah malam. Alhasil, juara olimpiade Biologi tingkat Provinsi Jawa Timur pun ia genggam. Lomba-lomba akademis yang lain juga kerap diikuti sejak masih duduk di bangku SMP.