Ajak Jamaah Berhijrah

201
BERI CONTOH: Peggy Melati Sukma saat berdakwah di hadapan jamaah Masjid Muawanah Mrican Semarang. (Yetty/Jawa Pos Radar Semarang)
BERI CONTOH: Peggy Melati Sukma saat berdakwah di hadapan jamaah Masjid Muawanah Mrican Semarang. (Yetty/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Siapa yang tidak kenal Peggy Melati Sukma? Artis, presenter, model dan pembawa acara papan atas yang ngetop tahun 90-an. Dan sekarang banyak yang tidak tahu, kalau artis yang memiliki segudang prestasi tersebut telah 2 tahun menjalani kehidupan baru yang sangat jauh dari gemerlap kehidupan sebelumnya. Sekarang Peggy lebih dikenal sebagai seorang pendakwah dan sudah berubah penampilan, selalu berbusana muslimah syari.

Dia memaparkan proses perubahannya di hadapan jamaah ibu-ibu di Masjid Muawanah Jalan Mangga Semarang. Dengan tema “Hijrah Pada Islam”, Peggy mengajak jamaah untuk lebih memahami makna hijrah. ”Menjadi Islam tidak hanya berhenti hanya pada mengucapkan 2 kalimat syahadat saja, tapi harus mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” papar Peggy.

Dalam keseharian kita percaya akan kebesaran Allah Ta’ala dengan salat dan berzikir, tapi kenyataannya kita masih juga menyembah berhala. Berhala zaman Nabi dengan berhala zaman sekarang sudah berbeda. Zaman sekarang berhala-berhala itu berupa sinetron, televisi, tukang sayur, dan gadget. Berhala itu sifatnya memberi ketergantungan, jika tidak ada seperti ada yang hilang, seperti kurang lengkap, sehingga apa yang semestinya tidak diperbolehkan oleh ajaran Rasul menjadi hal yang diperbolehkan.

”Bangun tidur bukannya langsung salat malah sibuk nyari tukang sayur. Nanti nggak bisa masak. Atau waktunya salat Magrib, barengan dengan jam sinetron, bisa ketinggalan 1 episode. Percayakan semuanya pada Kebesaran Allah. Maka hijrah lah, pindahlah atau tingkatkan keimananmu dengan meninggalkan apa yang selama ini dilarang oleh Allah Ta’ala,” katanya.

Menyerah pada kebesaran Allah Ta’ala semata dengan memaknai satu tanda kebesaran-Nya adalah tidur dan mati. Tidur adalah keadaan nyawa yang sementara berpulang pada Allah sementara mati adalah keadaan nyawa yang berpulang kekal pada Allah.

Titik balik hijrah tidak perlu menunggu jatuh atau menderita dulu, namun dibangkitkan dari kematian tidur saja bisa menjadi titik balik berhijrah. Dengan selalu memohon pertolongan melalui salat, puasa kita bisa berhijrah menjadi hamba Allah yang tiada di hadapan Allah. Dengan mendudukkan diri kita sebagai hamba Allah dan jangan mendudukkan diri kita pada kenikmatan dunia, kita pasti mampu berhijrah. (yet/sct/ric/ce1)