RTH Jadi Tempat Transaksi Narkotika

183

KENDAL – Kasus penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja di Kabupaten Kendal sepertinya semakin memprihatinkan. Sepanjang Agustus ini, Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BBNK) Kendal sudah menangani 6 kasus penyalahgunaan barang haram tersebut. Dari jumlah itu, mayoritas menggunakan obat-obatan terlarang daftar G seperti Trihex dan Dextro.

Kasi Pemberantasan Narkoba BNNK Kendal, Kompol Crubus mengatakan, dari total dari 6 khasus yang ditangani, menyasar kalangan pelajar sekolah. 5 kasus diantaranya diungkap di daerah Pageruyung dan 1 Kasus di daerah weleri. “Dari 6 kasusitu, kami mengamankan 6 orang. Mayoritas dilakukan kalangan pelajar,” katanya kemarin.

Crubus menambahkan, kasus ini terbongkar setelah ada laporan masyarakat yang terganggu dengan peredaran obat-obatan terlarang daftar G di Kendal. Kasus yang baru-baru ini diungkap adalah laporan dari warga di sekitar ruang terbuka hijau (RTH) Weleri yang menjadi sarang peredaran obat jenis dextro dan trihex.

“Kasus di Pageruyung diungkap setelah masyarakat lapor. Sama halnya dengan kasus di Weleri, setelah diselidiki kemudian BNNK menangkap siswa salah satu SMA di Weleri berinisal I,17,. Saat ia ditangkap, ia mengaku menggunakan obat-obatan daftar G jenis trihex,” ujarnya.

Dari pengakuan I, RTH Weleri yang juga merupakan taman kota menjadi sarang peredaran obat-obatan terlarang. Sejumlah komunitas yang berkumpul di tempat tersebut disinyalir menjadi pelaku penggunaan obat-obatan terlarang. “Pengakuan I, dia membeli dari seorang teman bernama X asal Pekalongan, satu paketnya berisi 20 butir,” tandasnya.

BNNK sedang melakukan pengembangan kasus agar bisa mengungkap peredaran obat-obatan terlarang di kalangan remaja. “Prosesnya masih penyelidikan, kita juga sedang memeriksa keterlibatan I dalam penyalahgunaan obat yang dilakukan,” tuturnya.

Kepala Seksi Rehabilitasi BNNK Kendal, M. Gatot, menuturkan setelah pelaku penyalahgunaan yang ditangkap langsung ditelusuri dan diselidiki guna mengetahui pelaku hanya sebagai pengguna atau pengedar. “Jika hanya menggunakan langsung direhabilitasi, namun jika pengedar akan menjalani proses hukum,” tambahnya. (den/fth)