Marmo Bertemu Warga Kebonharjo

344
DIALOG: Calon Wali Kota Semarang Soemarmo HS saat berdialog dengan warga Kebonharjo, Tanjung Mas, Semarang Utara. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIALOG: Calon Wali Kota Semarang Soemarmo HS saat berdialog dengan warga Kebonharjo, Tanjung Mas, Semarang Utara. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KEBONHARJO- Pasangan calon (paslon) yang diusung Koalisi Bangkit Sejahtera (PKB-PKS), Soemarmo HS dan Zuber Safawi (MAZU) terus melakukan kegiatan sosialisasi ke masyarakat. Kali ini, mereka mengunjungi RW 11 Kelurahan Tanjung Mas Semarang Utara dalam acara dialog Perda No 14/2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang 2011-2031, Senin (24/8) lalu.

Pada pertemuan yang dihadiri seluruh Ketua RT dan RW di Kelurahan Kebonharjo tersebut, Soemarmo memaparkan berbagai program, salah satunya terkait infrastruktur yang nantinya akan dibangun, utamanya dalam mengatasi rob dan banjir di daerah Kebonharjo.

Pihaknya akan menerukan program pembangunan polder penampung yang terhenti. Selain itu, juga pembangunan sabuk pantai untuk menghindari rob dan banjir. “Makanya saya punya program pada waktu itu, Polder Banger bekerjasama dengan Pemerintah Belanda. Saya mengajukan terkait dengan Polder Tawang. Kalau di sini sudah diselesaikan apalagi kalau sudah ada sabuk pantai, daerah di sini akan merdeka. Karena itu, akan saya lanjutkan kembali. Itu kan untuk kepentingan masyarakat,” kata Soemarmo.

Soemarmo juga membeberkan program pendidikan gratis dan pelayanan gratis naik BRT bagi pelajar. “Kami juga akan menaikkan Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP) mulai tingkat RT hingga PKK,” janjinya.
Pada saat sesi dialog, warga meminta Soemarmo tidak hanya memberikan pelayanan gratis dalam pendidikan, tapi juga bisa menyejahterakan warga Kebonharjo dengan mengatasi pengangguran. “Pengangguran di sini masih banyak pak. Sementara yang kerja di pelabuhan orang dari luar Kota Semarang semua. Kalau orang asli Semarang, apalagi Kebonharjo ditolak,” ucap Ny Slamet, warga RW 11.

Dia juga menyampaikan uneg-uneg, karena sebentar lagi tempat tinggalnya bakal digusur untuk pembangunan Terminal Peti Kemas. “Saya sudah hidup selama 44 tahun di sini. Saya bingung karena sebentar lagi akan digusur untuk dibangun terminal peti kemas. Kalau disuruh untuk mencoblos, saya ingin mencoblos siapa? Saya nggak ingin kalau sudah dipilih, maka kami tetap digusur,” katanya.

Soemarmo sendiri menyampaikan terima kasih atas masukan warga yang selama ini resah dengan rencana penggusuran tersebut. “Saya kira nggak masalah soal masukan seperti itu. Itu akan menjadi catatan bagi saya. Itu membuat saya tidak boleh lupa, apa yang telah saya lakukan. Kalau memang ada salahnya selama saya memimpin, saya memohon maaf atas apa yang telah saya lakukan. Ini bagian yang akan saya perhatikan,” ujar Soemarmo.

Menurut dia, persoalan tersebut bisa diatasi dengan melakukan revisi Perda. Namun dengan catatan, hal tersebut kembali lagi dengan keputusan DPRD Kota Semarang. “Masalah ini berpulang kepada DPRD, karena ini soal revisi Perda. Revisi itu juga harus sesuai dengan tata ruang provinsi dan pusat,” jelasnya.

Pihaknya mengimbau warga supaya tetap rukun, dan tidak terpecah meski ada pemilihan kepala daerah. “Kalaupun di sini ada perbedaan pilihan, jangan sampai ada perpecahan. Saya berharap, monggo kalau ingin memilih yang sana atau sini. Saya di sini memang ingin bertemu panjenengan, ini adalah temu kangen. Mohon doanya, saya ingin maju dalam pilkada,” ujarnya. (mha/aro)