Lomba sebagai Evaluasi Kinerja SKPD

Semarang Masuk Nominator Kota Sehat

207
CEK FASILITAS: Ketua Tim Verifikasi Kota Sehat dari pusat Tutut Indrawahyuni didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Widoyono meninjau UKS di SMA Negeri 1 Semarang. (Humas for Jawa Pos Rase)
CEK FASILITAS: Ketua Tim Verifikasi Kota Sehat dari pusat Tutut Indrawahyuni didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Widoyono meninjau UKS di SMA Negeri 1 Semarang. (Humas for Jawa Pos Rase)

SEMARANG – Kota Semarang kedatangan tim verifikasi Kota Sehat dari Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian PU dan Pera RI, Rabu (26/8). Rombongan yang diketuai oleh Tutut Indrawahyuni diterima Penjabat (Pj) Wali Kota Semarang Tavip Supriyanto didampingi para kepala SKPD terkait.

Tim melakukan penilaian di beberapa lokasi, di antaranya SMA Negeri 1 Semarang, Pasar Rasamala Banyumanik, Kelurahan Rejosari, Kelurahan Peterongan, Kelurahan Sampangan, Kelurahan Panggung Lor, Kelurahan Miroto, Terminal Penggaron, IPLT Terboyo, TPA Jatibarang, dan Kelurahan Ngaliyan.

Tavip Supriyanto menyebutkan bahwa kedatangan tim penilai merupakan kebanggaan karena Kota Semarang masuk sebagai salah satu nominator kota sehat. ”Melalui lomba ini dapat menjadi evaluasi sejauh mana kinerja SKPD. Karena hasilnya nanti dapat menjadi tolok ukur keberhasilan serta dapat menjadi motivasi untuk mewujudkan Kota Semarang menjadi lebih baik, lebih nyaman, dan lebih sehat,” ujarnya.

Selama ini Forum Kota Sehat telah melakukan sejumlah kegiatan di antaranya launching Kota Sehat, Penguatan FKK Kota Sehat, sosialisasi Kota Sehat, kampanye Kota Sehat, dan pengukuhan Kecamatan Sehat dan Kelurahan Sehat guna mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat sehat dan mandiri, tatanan permukiman dan sarana prasarana sehat, serta tatanan pariwisata sehat.

Sebagai salah satu bukti bahwa Semarang layak disebut sebagai kota sehat, jelas Tavip, adalah angka kematian bayi dan balita dari tahun ke tahun. Per 1.000 kelahiran di tahun 2010 angka kematian bayi sebanyak 16,82 persen turun menjadi 12,1 perrsen di tahun 2011. Angka itu semakin menurun di tahun 2014 yaitu 2,9 persen. Sementara untuk kematian balita di tahun 2010 sebesar 20,31 persen menurun di tahun 2011 yaitu 14,9 persen, kemudian menurun di tahun 2014 yaitu 11,3 persen.

Beberapa program yang telah dilakukan dalam rangka menurunkan angka kematian ibu adalah kelas ibu hamil, pendampingan kepada ibu hamil terutama yang risiko tinggi, peningkatan sarana prasarana pelayanan kesehatan

Sementara angka kejadian TB paru per 100.000 penduduk pada tahun 2013 menuju tahun 2014 mengalami penurunan yang semula 250 menjadi 224 melalui upaya adanya surveilans penemuan penyakit TB Paru-paru dan pendampingan untuk penderita.

Angka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) juga mengalami penurunan di tahun 2013 yang semula 134,2 persen menjadi 92,43 persen di tahun 2014 per 100.000 penduduk. Dengan adanya petugas surveilans (GaSurKes) khusus untuk mengurangi angka kesakitan DBD yang ditempatkan di masing-masing kelurahan dan perda DBD nomor 5 tahun 2010 tentang Pengendalian Penyakit DBD.

Sedangkan angka kejadian penderita HIV per 10.000 penduduk juga mengalami penurunan. Di tahun 2010 awalnya sebanyak 2,3 persen meningkat menjadi 2,7 persen di tahun 2011, dan memuncak di tahun 2012 sebanyak 2,9 persen, namun kemudian menurun tahun 2013 menjadi 1,00 dan 0,9 persen di tahun 2014. Hal itu disebabkan adanya kelompok warga peduli HIV/AIDS, surveilans penemuan HIV/AIDS, pendampingan penderita HIV/AIDS, dan VCT HIV/AIDS.

Karenanya usia harapan hidup pun semakin meningkat dari 71,9 di tahun 2007 yang kemudian berangsur-angsur meningkat hingga puncaknya di tahun 2014 yaitu sebanyak 72,53. Pj Wali Kota berharap melalui verifikasi langsung ke lapangan ini Kota Semarang dapat terpilih menjadi pemenang dalam lomba Kota Sehat. (zal/ce1)