Targetkan 10 Juta Ton

181

SEMARANG – Budidaya rumput laut diyakini menjadi salah satu budidaya kelautan yang dapat mendukung ketahanan pangan di Indonesia. Sebab, potensi pemanfaatannya sangat luar biasa. Dengan teknologi modern, rumput laut bahkan dapat digunakan menjadi pengeras aspal, cat pesawat terbang, obat-obatan, di samping untuk bahan makanan.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto saat membuka kegiatan Konsolidasi Budidaya Air Payau dan Laut 2015 yang digelar di Hotel Aston Semarang, Selasa (25/8).

Dia mengakui, manfaat rumput laut tidak hanya dirasakan oleh orang Indonesia. Namun juga masyarakat dari berbagai penjuru dunia. Oleh karenanya, tidak heran jika kemudian banyak rumput laut yang diekspor ke luar negeri. ”Saat ini target produksi kita 10 juta ton rumput laut basah. Untuk rumput laut kering sekitar 1 juta ton,” imbuhnya.

Slamet menambahkan, budidaya rumput laut juga dapat menyerap banyak tenaga kerja mulai dari awal pembibitan hingga ke proses pengolahan. Bahkan dalam satu keluarga semua dapat ikut bekerja. ”Modalnya murah. Bahkan tali dan pelampung dapat digunakan hingga puluhan tahun. Kita juga tidak perlu memberikan obat dan pakan,” terangnya.

Selain rumput laut, lanjutnya, berbagai jenis kerang dan ikan bandeng juga dapat diandalkan untuk meningkatkan pendapatan pembudidaya skala kecil dan menengah. Salah satu contohnya adalah pembudidaya bandeng dengan sistem pen culture di Semarang Barat, Kota Semarang.

”Dengan sistem pen culture, masyarakat mengelola perairan yang tidak produktif menjadi lebih produktif. Rata-rata per hektare menghasilkan 7–8 ton bandeng, ukuran 4–6 ekor per kg. Harga jualnya pun cukup tinggi yaitu Rp 16 ribu per kg. Cara panennya pun bisa dilakukan secara parsial yaitu mulai umur 6 bulan,” bebernya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah Lalu M. Syafriadi yang hadir dalam kesempatan tersebut menambahkan, pihaknya akan melakukan kajian dan pemetaan terlebih dahulu atas sejumlah perairan di Jawa Tengah yang bebas dari zat-zat berbahaya. ”Kami belum bisa menyebutkan titik-titik mana saja (yang diperbolehkan) karena akan melakukan identifikasi dulu,” terangnya. (fai/ric/ce1)