KOPI SPESIAL: Salah seorang anggota AKSI sedang melakukan cupping. (NURUL PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KOPI SPESIAL: Salah seorang anggota AKSI sedang melakukan cupping. (NURUL PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Asosiasi yang mewadahi mulai dari petani, pengusaha coffee shop, roaster, eksporter hingga penikmat kopi ini berupaya meningkatkan pamor kopi Indonesia baik di dalam maupun di luar negeri. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

BELASAN cangkir berisi seduhan kopi berjajar di sebuah meja di salah satu sudut Strada Café. Aromanya yang memikat langsung memenuhi ruangan. Kopi-kopi yang telah diseduh dengan takaran khusus ini lantas dicicipi oleh sejumlah Q Grader.

”Ini yang kita sebut cupping atau nyeruput atau icip-icip kopi untuk dinilai kualitasnya,” ujar Ketua Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI), Syafrudin dalam sosialisasi kopi spesial di Strada Café, belum lama ini.

Hasil dari cupping ini beragam. Skor di bawah 70, masuk dalam kategori commercial coffee, antara 70–80 tergolong premium coffee. Sedangkan untuk kopi dengan kategori di atas 80, inilah yang disebut sebagai specialty coffee. ”Kategori di atas 80 ini dinilai dari aroma, rasa dan lain sebagainya,” kata pria yang juga eksporter kopi ini.

Kopi spesial ini, kata Syafrudin, dapat dihasilkan melalui beberapa tahapan. Mulai dari proses penanaman yang tepat, pengolahan hingga menjadi secangkir kopi yang berkualitas. Apabila salah satu tahapan tidak dilakukan dengan tepat, kualitas kopi dapat turun.

Seperti proses pemetikan kopi, misalnya. Sangat dianjurkan untuk memetik hanya yang merah saja. Karena bila yang belum ranum ikut terpetik, rasa akan berbeda. Pun dengan proses penjemuran dan penyimpanan yang sembarangan. Hal ini akan memengaruhi aroma kopi.

Ia mengakui, proses mendapatkan kopi spesial ini memang terkesan ribet. Tapi hal tersebut akan sangat berdampak pada hasil dan juga harga yang lebih tinggi. Ia mencontohkan kopi Robusta kualitas biasa per kilogramnya Rp 25 ribu, tapi yang spesial minimal di atas Rp 35 ribu.

”Kalau petani bisa menghasilkan kopi-kopi spesial, tentu taraf hidup mereka akan lebih meningkat. Itu salah satu tujuan kami,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya juga gencar memberikan pembinaan bagi para petani kopi, terkait proses penanaman dan pengolahan. ”Kalau saat mengetes kualitas, hasilnya buruk, ya kami bilang pada petani, kualitasnya seperti itu. Sebabnya apa? Dan bagaimana cara mengatasinya? Juga kami sampaikan,” katanya.

Salah seorang anggota AKSI, Evani Jesslyn, menambahkan, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Keragaman varietas kopinya pun sangat tinggi. Sayangnya, belum banyak masyarakat di dalam negeri yang paham betul dan juga belum menikmati kopi-kopi berkualitas baik tersebut.

”Pengalaman saya sekolah di Amerika, kopi-kopi di sana sangat nikmat, dan ternyata itu impor dari Indonesia. Pun saat saya di Singapura, kopi impor dari Indonesia benar-benar nikmat. Tapi rasanya justru jadi kurang saat saya merasakan kopi di Indonesia,” akunya.

Usut punya usut, lanjut Evani, kopi Indonesia yang dijual di Amerika maupun Singapura adalah kopi dengan kualitas spesial. Sedangkan yang saya rasakan di Indonesia adalah kualitas di bawahnya. Dari situ, ia mulai tertarik untuk mendalami bidang ini dan bergabung dalam AKSI.

”Saya ingin tidak hanya orang luar saja yang menikmati kopi-kopi berkualitas Indonesia, tapi masyarakat kita sendiri juga dapat menikmati kopi-kopi dengan rasa yang spesial ini,” ujar Coffee Roaster Strada Café ini.

Selain itu, sambung Syafrudin, dengan mengedukasi seputar kopi, diharapkan dapat meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap kopi-kopi dalam negeri. Karena kualitas kopi Indonesia sendiri sudah diakui oleh dunia.

”Jangan hanya suka minum kopi berlabel luar negeri yang harganya mahal, karena alasan gengsi. Padahal di dalamnya ada campuran kopi Indonesia,” tandasnya. (*/aro/ce1)