BELUM BERDAMPAK : Petani di Jateng saat mempersiapkan lahan untuk ditanami. Program Kartu Tani dari Gubernur Ganjar Pranowo hingga saat ini belum dirasakan manfaatnya oleh para petani. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)
BELUM BERDAMPAK : Petani di Jateng saat mempersiapkan lahan untuk ditanami. Program Kartu Tani dari Gubernur Ganjar Pranowo hingga saat ini belum dirasakan manfaatnya oleh para petani. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)

SEMARANG – Pelaksanaan uji coba kartu tani yang digagas Pemprov Jateng di Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang ternyata belum membuahkan hasil. Banyak kendala di lapangan yang dialami petani. Mulai dari minimnya ketersediaan pupuk di tingkat pengecer sampai petani yang enggan menyetor tabungan di BRI.

Kondisi ini terlihat ketika Komisi B DPRD Jateng melakukan sidak di Kecamatan Gringsing, untuk mengetahui kesaktian kartu tani, kemarin. Dari sidak tersebut diketahui jika petani ogah untuk menabung di BRI dan menggunakan kartu tani. ”Dari sidak, ternyata sejak diluncurkannya kartu tani 3 Maret lalu pengecer yang melayani kartu tani baru melayani pembelian pupuk bersubsidi untuk 10 orang. Itu pun dilakukan dengan tunai bukan menggunakan kartu tani,” kata anggota Komisi B DPRD Jateng, Didik Herdiana Prasetyo, kemarin.

Ia menambahkan, untuk bisa menggunakan kartu tani, petani harus menambung di BRI. Sayang, petani yang memegang kartu sakti itu ogah untuk mengisi kartu tani. Para petani hanya menggunakannya untuk melihat kuota pupuk bersubsidi yang dimiliki pemegang kartu. ”Ironisnya dua pengecer di Desa Lebo sudah tidak beroperasi sejak Juni lalu karena tidak mendapatkan pasokan dari distributor. Penyebabnya mereka tidak mampu menjual sesuai kuota sebanyak 250 ton setahun,” imbuhnya.

Seorang petani pemegang kartu tani, Sulemi mengaku belum pernah menggunakan kartu tani sejak ia mendapatkannya dari Pemprov Jateng. Alasannya ia mengaku masih belum membutuhkan pupuk. ”Sebenarnya saya sudah isi kartu dengan tabungan tiga ratus ribu rupiah dan belum pernah saya gunakan,” katanya.

Anggota Komisi B DPRD Jateng, Riyono menambahkan, pilot project pelaksanaan 250 kartu tani di Kecamatan Gringsing ini praktis belum bisa berjalan. Sebab, banyak petani yang membeli pupuk dengan tunai dibandingkan menggunakan kartu tani. ”Banyak petani yang enggan mengisi kartu tani dan mereka lebih memilih membeli tunai,” katanya.

Dewan mendesak Pemprov Jateng lebih serius dalam menjalankan program kartu tani karena ini salah satu program unggulan Gubernur Ganjar Pranowo saat kampanye tahun 2013 lalu. ”Sebenarnya kalau cuma untuk pengendali pupuk itu sangat ironis,” tambahnya. (fth/ric/ce1)