SEMARANG – Pelabuhan Tanjung Emas Semarang diketahui menjadi salah satu pelabuhan utama yang bertanggung jawab terhadap distribusi angkutan barang di dalam negeri dan ekspor impor ke luar negeri. Oleh karenanya, untuk menunjang hal tersebut dibutuhkan adanya konektivitas angkutan barang moda kereta api sebagai moda lanjutan dan moda awal menuju pelabuhan tersebut.

Hal itu diungkapkan Imam Muthohar, anggota tim Pusat Penelitian dan Pengembangan Manajemen Transportasi Multimoda Kementerian Perhubungan saat mengawali focus group discussion (FGD) yang digelar di Kantor Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dinhubominfo) Jawa Tengah, kemarin.

Imam menjelaskan, selama ini moda jalan sebagai moda lanjutan atau moda awal tidak dapat optimal dalam mendukung kinerja Pelabuhan Tanjung Emas. Sehingga pemerintah merasa perlu menyusun konsep pengembangan infrastruktur dan layanan multimoda berbasis kereta api dalam rangka optimalisasi angkutan barang di wilayah hinterland pelabuhan Tanjung Emas. ”Selama ini angkutan umum sudah bagus namun angkutan barang seperti dibiarkan begitu saja,” imbuhnya.

Ke depannya, lanjut Imam, angkutan barang akan lebih dioptimalkan. Yaitu dengan cara mengembangkan simpul-simpul angkutan barang berbasis kereta api. Dalam hal ini, pemanfaatan jalur double track dapat dimaksimalkan sehingga menjadi lebih optimal. ”Jika sebelumnya kereta barang 40 persen dan penumpang 60 persen, maka selanjutnya dapat dibalik,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, pakar transportasi Unika Soegijapranoto Djoko Setijowarno menyatakan persetujuannya. Menurutnya, sejak zaman pemerintahan Belanda semua pelabuhan di Indonesia telah terhubung dengan rel kereta. Hanya saja, jalur tersebut mulai hilang seiring perjalanan waktu. ”Nah, jalur-jalur itu bisa diaktifkan kembali dan bila perlu ditambah seperti menuju Pelabuhan Kendal yang sebentar lagi diresmikan,” terangnya.

Djoko menambahkan, penggunaan jalur kereta untuk angkutan barang memang sangat dibutuhkan. Mengingat jalur darat yang selama ini telah memenuhi kapasitas sehingga berpotensi merusak jalan. ”Selain itu, penggunaan double track menjadi lebih optimal. Sayang sekali, dibangun dengan biaya ratusan miliar namun penggunaannya belum maksimal,” tandasnya.

Sementara itu, Sumadi dari Kantor Kesyabandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Pelabuhan Tanjung Emas yang juga turut hadir dalam kesempatan itu meminta supaya jika hal tersebut diterapkan traffic yang telah ada tidak bertabrakan dengan kereta api. ”Kami berharap multimoda ini tidak saling mengungguli namun saling melengkapi,” harapnya. (fai/ric/ce1)