Tak Ada Sanksi, Terus Beroperasi

414
KUCING-KUCINGAN: Masih banyak penambang yang melakukan galian C menggunakan backhoe dan truk di Brown Canyon, salah satu lokasi penambangan proyek galian C Kota Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KUCING-KUCINGAN: Masih banyak penambang yang melakukan galian C menggunakan backhoe dan truk di Brown Canyon, salah satu lokasi penambangan proyek galian C Kota Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

TEMBALANG – Tidak adanya sanksi tegas terhadap para penambang galian C membuat pelaku tidak jera dan terus melakukan aktivitas penambangan yang bersifat merusak lingkungan tersebut. Bahkan peringatan dan penyegelan lokasi oleh pemerintah setempat seakan tidak digubris.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di daerah Rowosari, Meteseh, Tembalang, Kota Semarang, proyek galian C yang lebih populer dikenal Brown Canyon masih beroperasi. Lokasi penambangan yang sudah berumur 10 tahun lebih ini, jelas masih digunakan sebagai tempat mengais rezeki dengan melakukan penggalian pasir, penggalian tanah uruk dan batu padas.

Ada sekitar 14 backhoe di lokasi, namun beberapa di antaranya tidak beroperasi. Sementara untuk pengangkutan ada sekitar 20 truk sedang beraktivitas bongkar muat. Di lokasi juga terdapat sekitar 12 pondok singgah dan tidak jauh dari galian C ada tempat pembuangan sampah. Ketika memasuki lokasi, pengunjung akan ditarik karcis sebesar Rp 5 ribu.

Yanto, seorang supir truk mengaku setiap mengangkut galian membayar mel-melan kepada petugas sekitar sebesar Rp 20 ribu permuatan. Ia menyatakan masih tetap berani membeli bahan penambangan di daerah tersebut karena banyak permintaan pasar (pembeli), selain itu karena tuntutan kebutuhan hidup. ”Harga 1 truk padas di sini yang biasa cuma Rp 150 dan yang jumbo Rp 200 ribu, kalau batu bisa mencapai Rp 800-Rp 1 juta satu truknya,” kata Yanto.

Dia juga mengaku mendengar bahwa mulai 30 Agustus 2015 kawasan tersebut sudah ditutup untuk pengunjung dan hanya diperuntukkan bagi penambang. ”Kalau gak ada larangan banyak ini backhoe yang operasi Mas, sekarang sejak ditutup kerjanya manual,” ungkapnya.

Yanto mengatakan, pemilik galian C Brown Canyon itu adalah warga (perorangan), yang juga tuan tanah di sini. ”Kabarnya ada 4 orang yang punya. Backhoe-nya juga milik mereka,” ujarnya.

Warga Rowosari, Sri Mungiati tak sependapat jika area galian C ditutup. Pasalnya, penambangan tersebut bagian dari sumber mata pencaharian warga. ”Di lokasi itu juga sering melakukan operasi malam, seperti kucing-kucingan dengan pemerintah,” ujarnya.

”Dulu kami bisa kerja dari pagi sampai sore dan menggunakan alat berat, namun sejak ditutup hanya bisa bekerja dari pagi sampai siang dan hanya menggunakan alat-alat konvensional,” sebutnya.

Sebelumnya, Alwin Basri Ketua Komisi D DPRD Jateng mengatakan, larangan galian C tersebut tercantum dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2011, tentang pengelolaan pertambangan mineral dan batubara di provinsi ini.

Ia menyebutkan, peraturan tersebut bertujuan agar penambangan galian C ilegal tidak bertambah marak. Ia juga mengatakan, peraturan daerah tersebut dibuat berdasarkan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara. Larangan mulai diberlakukan 24 Februari 2015. ”Kalau sampai ketahuan, kontraktor membeli pasir atau material lain dari galian C tak berizin, akan kena sanksi hukum pidana paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar,” ujarnya. Kalangan DPRD Kota Semarang juga meminta pemkot tegas mengambil sikap pelarangan galian C di Kota Semarang. Sebab, Perda RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) di Semarang tidak mengatur area penambangan. (jks/zal/ce1)