Pejalan Kaki Kurang Dihargai, Kampanyekan City Walk

231
AJAK TERTIB: Koordinator KPKS Theresia Tarigan bersama para staf Ace Hardware Semarang mengampanyekan city walk di CFD, Minggu (23/8) pagi kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AJAK TERTIB: Koordinator KPKS Theresia Tarigan bersama para staf Ace Hardware Semarang mengampanyekan city walk di CFD, Minggu (23/8) pagi kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Para pejalankaki kerap dianggap sebelah mata. Rata-rata pengguna kendaraan bermotor masih tampak arogan dengan tidak memberi peluang bagi pejalan kaki untuk menggunakan fasilitas lalu lintas. Seperti masih serampangan ketika ada penyeberang yang melewati zebra cross, memarkirkan kendaraan di trotoar, dan masih banyak lagi.

Fenomena itu membuat Koordinator Koalisi Pejalan Kaki Kota Semarang (KPKS) Theresia Tarigan merasa prihatin. Tere –sapaan akrabnya– terus mengampanyekan warga Semarang untuk lebih menghargai city walk. Dia juga menyentil Pemerintah Kota Semarang untuk lebih memberikan fasilitas pejalan kaki yang pastinya pengguna moda transportasi umum.

Agar Semarang bisa menjadi surga bagi pejalan kaki, kampanye tersebut terus digenjot. Bahkan Ace Hardware turut mendukung program ini dengan menyediakan tempat agar KPKS bisa berkampanye di pelataran toko tersebut, ketika Car Free Day (CFD), Minggu (23/8) pagi kemarin. Memanfaatkan kerumuman massa setelah digelar senam aerobik masal, para staf Ace Hardware membantu Tere menyosialisasikan obsesi KPKS.

Dengan membawa sejumlah frame bertuliskan kalimat yang pro terhadap pejalan kaki, tim tersebut turun ke jalanan. Mereka menawarkan agar frame tersebut digunakan sebagai bingkai untuk foto selfie. ”Nantinya, hasil foto tersebut bisa diunggah di media sosial dengan hashtag KPKS sebagai bukti mendukung city walk agar pejalan kaki bisa mendapatkan hak-hak mereka di jalan raya,” ucap Tere.

Dia merasa ada diskriminasi yang dilakukan pemerintah kepada pengguna jalan raya. Sementara ini, hanya pengguna kendaraan bermotor yang mendapatkan perhatian lebih. Buktinya, yang kerap dilakukan adalah pengaspalan atau pelebaran jalan, bukan trotoar.

”Kalau pemerintah sendiri masih acuh dan tidak menganggarkan atau mengalokasikan untuk pejalan kaki, pastinya, warga juga ogah menjadi pejalan kaki. Dampaknya, volume kendaraan bermotor jadi membeludak. Polusi, kemaceten, kelangkaan BBM, dan masih banyak lagi dampaknya kalau pemerintah tidak segera membuat program surga bagi pejalan kaki di kota ini,” tegasnya. (amh/zal/ce1)