Warga Blokir Jalan dengan Keranda

407
BLOKIR JALAN : Ibu-ibu bersama warga Desa Wonosegoro, Bandar, Batang. yang memblokade jalan dengan keranda dan batu-batu, sebagai aksi unjuk rasa karena kerusakan jalan tak kunjung diperbaiki. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BLOKIR JALAN : Ibu-ibu bersama warga Desa Wonosegoro, Bandar, Batang. yang memblokade jalan dengan keranda dan batu-batu, sebagai aksi unjuk rasa karena kerusakan jalan tak kunjung diperbaiki. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG-Lantaran jalan rusak tidak kunjung diperbaiki, puluhan warga Desa Wonosegoro, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Rabu (19/8) lalu, melakukan aksi blokir jalan dengan menggunakan keranda mayat. Mereka sengaja menghalangi warga yang hendak masuk ke Desa Wonosegoro.

Aksi blokir jalan sebenarnya pernah dilakukan oleh bapak-bapak di Desa Wonosegoro. Namun karena tidak ada respon apapun dari Pemkab Batang maupun perangkat desa, kini ibu-ibu turun ke jalan melakukan aksi blokir jalan dengan keranda.

“Anak-anak kami sudah tidak bisa lagi bersepeda di jalan, karena jalan yang rusak sudah sulit dilalui,” ungkap Dinuriyah, 34, warga Desa Wonosegoro, yang dibenarkan warga lain.

Menurutnya, kerusakan jalan Desa Wonosegoro semakin parah sejak lima tahun terakhir. Bahkan, saat ini sulit dilalui sepeda motor. Lantaran banyak jalan berlubang, banyak batu besar yang tajam, sehingga menimbulkan korban jatuh, terperosok ke lubang pada jalan.

Dinuriyah yang merupakan koordinator aksi unjuk rasa mengatakan penggunaan keranda dalam aksi blokir jalan tersebut, sebagai simbol matinya kepedulian Pemkab Batang terhadap rakyat kecil. “Aksi protes ini sudah dilakukan warga berulang kali, lantaran sudah hampir empat tahun jalan rusak tidak diperbaiki, “ kata Dinuriyah dengan nada emosi.

Kepala Desa Wonosegoro, Abdul Manan, menandaskan bahwa pihak desa lebih dari tiga kali mengajukan proposal untuk perbaikan jalan rusak. Khususnya jalan mulai dari masjid desa hingga kantor balaidesa.

Menurutnya kondisi jalan membahayakan jika ada warga yang terjatuh, khususnya ibu-ibu yang sering mengendarai kendaraan bermotor dan terjatuh.

”Saya sebenarnya sudah berulangkali mengusulkan perbaikan jalan rusak ke Pemkab Batang. Bahkan sudah tiga proposal saya ajukan, tapi tidak juga direspon. Terus apalagi yang harus saya lakukan,” tandas Abdul Manan.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air, Kabupaten Batang, Ketut Mariadji ketika dikonfirmasi menegaskan bahwa untuk mengurangi kerusakan Jalan Desa Wonosegoro, akan dilakukan perbaikan darurat dengan anggaran Rp 200 juta.

Menurutnya anggaran untuk perbaikan jalan tersebut, baru akan dilaksanakan pada anggaran tahun 2016, dengan DAK Khusus Infrastruktur senilai Rp 2 miliar bantuan dari Pemprov Jawa Tengah. “Kami mohon kesabaran warga Desa Wonosegoro. Karena saat ini perbaikan jalan terus dilakukan di desa-desa. Seperti di Desa Batiombo, sebelah Desa Wonosegoro yang sudah diaspal hotmix. Maka, tahun depan giliran Wonosegoro, namun harus menunggu karena harus melalui tahapan dan proses-proses,” tegas Ketut Mariadji. (thd/ida)