Rumah Menengah Paling Diminati

237

SEMARANG – Rumah menengah di kawasan Semarang dan sekitarnya paling banyak diminati oleh masyarakat, khususnya keluarga muda. Selain sesuai kebutuhan, harga rumah menengah dinilai lebih terjangkau.

“Kondisi perkembangan rumah menengah atas secara umum pada triwulan II-2015 terlihat mengalami pertumbuhan,” ujar Direktur Eksekutif Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Iskandar Simorangkir, kemarin (21/8).

Kondisi perkembangan harga rumah menengah secara umum pada triwulan II-2015 terlihat mengalami pertumbuhan. Secara rata-rata, harga rumah menengah di triwulan II-2015 meningkat sebesar 2,78 persen (qtq), sementara harga tanah meningkat sebesar 3,23 persen (qtq).

Kenaikan harga rumah tertinggi berada di wilayah Semarang Tengah (3,49 persen) diikuti Semarang Selatan (3,28 persen). Rata-rata harga rumah pada Triwulan II-2015 sebesar Rp 900 juta. Untuk rumah di wilayah Semarang Barat dan Semarang Selatan harganya mendekati Rp 1 miliar.

Kenaikan harga tanah tertinggi berada di wilayah Semarang Selatan diikuti Semarang Tengah masing-masing sebesar 3,98 persen dan 3,69 persen. Kenaikan harga tanah di wilayah Semarang disebabkan oleh peningkatan aktifitas komersial dan perumahan khususnya di wilayah Semarang Selatan.

Wakil Ketua DPD REI Jateng Bidang Promosi dan Publikasi Dibya K mengatakan, saat ini rumah menengah merupakan tipe yang paling banyak dibeli. Menurutnya, baik ukuran maupun harga relatif cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga muda. “Paling laku memang rumah menengah. Harganya terbilang cukup terjangkau, kemudian untuk keluarga muda, suami istri anak satu, masih cukuplah rumah ukuran segini,” jelasnya.

Sementara itu, kondisi pasar properti residensial secara umum pada Triwulan II-2015 masih terlihat cukup aktif, meskipun pergerakannya terbatas dan masih didominasi oleh beberapa area seperti wilayah Semarang Tengah maupun Semarang Selatan.

Pasokan rumah primer yang sudah tidak banyak berkembang di area Kota Semarang semakin meningkatkan pasokan rumah sekunder di Semarang dimana harga untuk rumah sekunder tetap tinggi dan semakin diminati.

Pergerakan harga untuk harga pasar rumah menengah terindikasi lebih tinggi dibanding pergerakan harga rumah kelas menengah atas. Transaksi rumah sekunder secara keseluruhan bervariasi, sebagian daerah mengalami stagnasi, daerah lainnya mengalami penurunan dan kenaikan. “Kejadian tersebut tidak hanya terjadi di Semarang tetapi juga kota besar lainnya di Indonesia, sebagai dampak dari pelemahan ekonomi nasional,” papar Iskandar. (dna/smu)