AMBARAWA-Pasca terjadinya pengeroyokan manajer Kampoeng Rawa, Agus Sumarno dan pengawalnya oleh warga Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, menimbulkan trauma mendalam. Sejumlah pengurus dan karyawan di objek wisata apung di Rawa Pening itu trauma hingga beberapa karyawan tidak berangkat kerja.

Menurut Pembina Koperasi Jasa Usaha Pariwisata (Kopjapari) Kampoeng Rawa, Nurzubaedi, pihaknya sangat kaget atas kejadian itu. Kejadian itu, sulit dicegah karena massa begitu banyak. Bahkan imbas kejadian itu, ada 10 karyawan izin tidak bekerja karena ketakutan.

“Masalah tersebut sebenarnya tidak akan terjadi, jika semua pihak saling menahan diri. Saya sangat menyayangkan masalah ini bisa terjadi. Hal ini sebenarnya karena kurang komunikasi saja. Mudah-mudahan masalah ini dapat segera terselesaikan,” kata Nurzubaedi sebagai tokoh yang turut membidani Kampoeng Rawa.

Nurzubaedi mengatakan, kendati ada permasalahan tersebut, namun Kampoeng Rawa harus tetap buka. Sebab ada ratusan karyawan yang harus digaji. Selain itu, ada sisi pemanfaatan yang besar bagi petani dan nelayan di sekitar karena serapan komoditas panen mereka.

“Sehari setelah kejadian, saya kesana mengecek kondisi dan inventarisasi keuangannya. Karena ketua koperasinya (Agus Sumarno, red) sakit, ya operasional langsung dikendalikan sekretaris dan bendaharanya,” tutur Nurzubaedi.

Nurzubaedi menambahkan, saat ini pihaknya meminta agar pengurus Kopjapari mulai melakukan penataan keuangan. Sehingga operasional Kampoeng Rawa kembali normal. Selain itu, mulai melakukan musyawarah kembali untuk menyelesaikan masalah pengelolaannya.

“Setelah ini, harus bisa berdamai. Kalau proses hukum silakan itu kepolisian. Kalau ditutup sayang sekali, sebab pemberdayaan masyarakatnya sangat besar. Tapi kalau pemerintah mau menutup, ya kami hanya bisa pasrah,” pungkasnya. (tyo/ida)