Evasene: Uang Titipan Atas Perintah Harini

209
SPA: Sidang lanjutan pemeriksaan dua saksi dugaan korupsi kegiatan SPA di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/Jawa Pos Radar Semarang)
SPA: Sidang lanjutan pemeriksaan dua saksi dugaan korupsi kegiatan SPA di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/Jawa Pos Radar Semarang)

MANYARAN – Sidang lanjutan pemeriksaan saksi kembali digelar dalam persidangan perkara dugaan korupsi dana Semarang Pesona Asia (SPA) tahun 2007 di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (20/8).

Dalam sidang terdakwa Dra Harini Krisniati, Mantan Kepala BKPM-PB dan A Kota Semarang saksi yang diperiksa adalah Sri Rejeki Handayani; Mantan Karyawati Hotel Bali Semarang dan Bendahara Pengeluaran Pembantu; Evasene Martin. Dalam persidangan terungkap pengembalian uang titipan sebesar Rp 100juta di Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang atas perintah terdakwa.

Dalam kesaksianya, Evasene Martin mengaku, diminta tolong terdakwa Harini untuk mengembalikan uang titipan ke Kejari Semarang. “Uang itu saya terima dari ibu Harini. Waktu itu katanya cuma uang titipan untuk kejaksaan senilai Rp 100 juta. Pas diminta untuk menyerahkan ke kejaksaan saya menghadap langsung ke ibu Harini,”kata Evasene dihadapan majelis hakim yang dipimpin Gatot Susanto.

Selain itu, Evasene mengaku, kalau Harini pernah meminta uang sebesar Rp 218,8 juta kepada dirinya untuk mengganti dana talangan yang dikeluarkan terdakwa, namun pemberian uang tersebut diakui saksi tanpa bukti dan saksi. “Saya pernah memberikan uang Rp 218, 8juta atas perintah Ibu Harini. Tapi kuitansi baru sebagian dan lainnya menyusul saat Lpj. Uang itu untuk mengganti kegiatan pada seksi perlengkapan. Kwitansinya sebagian diserahkan lamgsung oleh ibu Harini dan sebagian seksi Perlengkapan,” sebutnya.

Uang tersebut, lanjut Evasene diakuinya hanya diserahkan langsung secara cash 1 kali ke Harini, selain itu uang itu merupakan bagian dari anggaran kegiatan SPA Rp 3,5 Miliar.

Dia mengaku, setiap pembayaran kegiatan SPA memang dirinya yang bertugas mengeluarkan uang dan semua sesuai kwitansi yang ada. “Ibu Harini nalangi dulu karena kegiatan itu sudah berjalan. Uang talangan yang dilakukan ibu Harini, sudah saya betitahu Ketua Panitia gak ada komentar kok. Kegiatan SPA waktunya cuma 2 bulan dan presiden datang, jadi harus kerja cepat. Bahkan di BPK tidak ada temuan. Permasalahan juga gak ada, di internal panitia berkaitan penalangan itu,”ungkapnya.

Evasene mengakui atas kegiatan SPA tersebut, atasanya Harini juga selalu ingatkan dirinya untuk selalu melihat kwitansi apakah ada dalam DPA (draf pelaksanaan acara) atau tidak karena kalau tidak ada, ia diperintahkan jangan dibayar. “Saya saling kordinasi dengan ibu Sita Dewi untuk pengeluaran dana. Setiap saya terima terima kwitansi sudah ada nominalnya, tanda tangan kwitansi juga sudah ada dari rekanan di kwitansi itu, saya gak tau itu asli atau tidak. Saya dengan ibu Sita juga sudah mencocokan DPA,”akunya.

Selanjutnya, saksi Sri Rejeki Handayani mengaku dirinya yang melakukan tanda tangan atas 2 kwitansi Hotel Bali yang dijadikan barang bukti dipersidangan, namun sepemahaman dirinya ketika tanda tangan semua sudah ada nominalnya. “Dua kwitansi itu saya tanda tangan, tapi uangnya gak saya terima sejumlah di kwitansi barang bukti, karena dulu ada diskon 15 persen, dulu saya tanda tangan sewa kamar sesuai sejumlah yang disebut. Pas tanda tangan nominalnya sudah ada cuma dulu nominal tanpa diskon, padahal ada diskonnya,”katanya. (jks/zal)