(DOKUMENTASI PRIBADI)
(DOKUMENTASI PRIBADI)

KARISMA Nur Aunari Bowo tidak pernah menyangka. Obsesinya jalan-jalan ke penjuru nusantara bisa terwujud meski belum dewasa. Bahkan dia tidak merogok kocek sepeser pun untuk plesiran tersebut. Itu semua berkat keahliannya menari. Prestasinya itu membuat penari Sanggar Greget ini bisa tampil ke mana-mana.

Dia mengaku, yang paling berkesan adalah ketika tampil di Istana Negara. “Memang cita cita sejak kecil bisa ke Istana Negara, gara-gara lihat Paskibraka di televisi. Eh, dapat kesempatan ke sana justru lewat menari,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Karisma mengaku tertarik seni tari saat duduk di bangku kelas 3 SD. Saat itu, dia mulai mengikuti ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Dia terpilih ikut pentas waktu acara perpisahan kelas 6 SD. Penampilannya kala itu menggugah kesadaran orangtua bahwa sang buah hati memiliki bakat di bidang seni tari.

”Orangtua lantas berinisiatif memasukkan aku ke Sanggar Tari Greget. Jadi, saya gabung sanggar mulai kelas 5 SD sampai sekarang,”ucap mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Diponegoro (Undip) ini.

Karisma mengenang saat awal latihan di sanggar. Gerakan dasar diakui tidak terlalu sulit untuk ditaklukkan. Tarian Kupu- Kupu adalah pentas pertama kali yang dipamerkan ke masyarakat. Beragam pengalaman menarik diperoleh dengan menari. ”Tapi, pengalaman sangat berkesan saat menari pada upacara penurunan bendera 17 Agustus 2013 di Istana Negara. Selain itu, juga bisa ke luar negeri berkat menari,” katanya.

Bagi Karisma, menari adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidupnya. Dengan menari, ia bisa mengekspresikan diri. Di sisi lain, dia melihat remaja saat ini sudah jarang mau melestarikan budaya lewat tari.

”Saat manggung di luar negeri merasa lebih diapresiasi penonton. Orang luar negeri saja tertarik dengan kebudayaan kita. Nah, orang Indonesia yang memiliki budaya seharusnya mau melestarikan,” ujarnya. (amh/aro)