285 Desa Adu Kreatif dan Inovatif Jajan Tradisional

388
FESTIVAL JAJANAN : Ratusan warga mencicipi aneka jenis jajanan tradisional yang digelar pada Festival Jajanan Tradisional di Jalan Madurorejo, Kajen, Pekalongan, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
FESTIVAL JAJANAN : Ratusan warga mencicipi aneka jenis jajanan tradisional yang digelar pada Festival Jajanan Tradisional di Jalan Madurorejo, Kajen, Pekalongan, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN-Sebanyak 285 jenis makanan ringan atau jajan tradisional dari 285 Desa di Kabupaten Pekalongan, beradu inovasi dan ciri khas dari berbahan lokal desa masing-masing dalam Festival Jajanan Tradisional, di sepanjang Jalan Mandurorejo, Kecamatan Kajen, Pekalongan, Kamis (20/8) kemarin. Di antaranya, ada Lupis, Jenang, Gemblong, Bandos hingga Apem.

Bupati Pekalongan, Amat Antono yang meresmikan festival tersebut menyatakan bahwa Pemkab Pekalongan mendorong masyarakat melestarikan panganan lokal tersebut. “Festival Jajan Tradisional ini, kali pertama diadakan di Kabupaten Pekalongan. Acara ini sangat bagus, ke depan akan menjadi agenda rutin setiap tahun sekali,” tutur Bupati Antono.

Begitu selesai diresmikan, jajanan tradisional habis dalam waktu 30 menit, diserbu masyarakat sekitar yang mengunjungi Festival Jajanan Tradisional tersebut. Bahkan beberapa tamu undangan seperti Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Hj Hindun, tidak sempat mencicipi jajanan tradisional kesukaannya lantaran habis. Yakni, gemblong cetot, makanan yang terbuat dari ketan dan ditaburi gula Jawa.

“Saya dari kecil hingga sekarang masih suka makanan gemblong cetot. Bahkan, sekarang mencarinya sulit karena jarang sekali yang jual,” kata Hj Hindun, usai mencicipi jajanan bubur candil dari Desa Dadirejo, Kecamatan Wiradesa.

Lain halnya dengan Sugeng Lumintu,34, warga Desa/Kecamatan Paninggaran, yang sengaja mendatangi Festival Jajanan Tradisional tersebut, karena ingin mencicipi apem dari Desa Kesesi yang terkenal. Menurutnya tidak semua jajanan tradisional bisa di jumpai di pasar tradisional, karena peminat terus menurun.

“Saya sengaja ingin mencicipi kue Apem Kesesi. Apem tersebut tidak ada di Desa Paninggaran, dan rasanya memang enak disamping bentuknya yang besar,” ungkap Sugeng.

Farid Maulanan, Pengurus Kadin Bidang UMKM, menandaskan bahwa langkanya jajanan tradisional di masyarkat, disamping semakin menurunnya pembeli, juga karena naiknya harga beberapa bahan baku untuk membuat jajanan tradisional tersebut naik. Padahal jajanan tradisional selama ini identik dengan harga murah dan rasa yang enak. Sedangkan harga bahan bakunya sudah tidak sebanding dengan harga jual. “Contoh sederhana, jenang ketan kacang tanah, harga kacang tanah 1 kilogramnya sudah Rp 26 ribu, beras ketannya sudah Rp 14 ribu per kilonya. Jenang ketan kacang tanahnya mau dijual berapa, beda dengan dulu yang semua bahannya masih murah,” tandas Farid. (thd/ida)