Sibagus Prioritaskan Program Kerakyatan

441
Sigit Ibnugroho dan Agus Sutyoso. (ISTIMEWA)
Sigit Ibnugroho dan Agus Sutyoso. (ISTIMEWA)

SEMARANG- Pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang Sigit Ibnugroho-Agus Sutyoso (Sibagus) punya kepedulian tinggi terhadap persoalan-persoalan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Hal itu yang melandasi pasangan Sibagus membuat program kerja yang langsung menyentuh bagi masyarakat kecil.

Program kerja yang akan dijalankan bila Sibagus dipercaya memimpin Kota Semarang ini dinamai program kerakyatan. Hal itu diungkapkan Sigit Ibnugroho saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (19/8) kemarin.

Sigit menjelaskan, dalam program kerakyatan ini menitikberatkan pada berbagai sektor, antara lain bantuan operasional RT/RW, LPMK, posyandu, serta untuk guru GTT (guru tidak tetap), modin, dan guru ngaji akan ditingkatkan kesejahteraannya.

Selain itu, kata dia, memberikan bantuan perlengkapan kerja PKL (pedagang kaki lima) dan memberi bantuan modal kerja tanpa bunga. Untuk bantuan operasional RT/RW dianggarkan Rp 7,5 juta per tahun, LPMK Rp 40 juta per tahun, dan posyandu dianggarkan Rp 30 juta per tahun.

“Program ini kami buat untuk lebih menyejahterakan bagi elemen masyarakat yang selama ini luput dari perhatian pemerintah,” ungkap calon wali kota yang berlatar belakang pengusaha ini.

Pengalaman sebagai seorang pengusaha di Kota Semarang selama bertahun-tahun, Sigit banyak mengetahui permasalahan permodalan yang dibutuhkan masyarakat yang ingin mendirikan usaha sendiri. Sebab, sebagian besar masyarakat masih kesulitan saat mencari modal di lembaga perbankan.

“Melihat kondisi ini saya merasa prihatin hingga terpikirkan untuk memberi bantuan modal bagi mereka yang ingin berusaha. Sehingga nantinya sektor ini bisa menopang dan memberikan kontribusi yang signifikan untuk pembangunan Kota Semarang,” ujarnya.

Sejak kerap blusukan ke tengah-tengah masyarakat, pasangan Sibagus banyak mendapatkan masukan dari warga, seperti banyaknya keluhan warga, terutama mengenai birokrasi kepengurusan surat-surat penting yang berbelit-belit. Kemudian saat tim Sibagus blusukan ke pasar tradisional, banyak pedagang berharap pasar tradisional bisa kembali berjaya seperti beberapa tahun lalu.

Mereka merasa kehadiran toko-toko minimarket yang belakangan menjamur di Kota Semarang merebut konsumen mereka. Serta adanya kesenjangan pemerataan pembangunan di daerah pinggiran dan perkotaan. Dan masih banyak lagi masukan-masukan dari masyarakat yang disampaikan ke pasangan ini.

Dari beberapa masukan tersebut, Sigit telah merancang mengenai pemberdayaan birokrasi dan pembangunan yang dipasrahkan langsung di lingkup RW. Dengan begitu, masalah pembenahan jalan dan taman kampung, tidak perlu lagi repot-repot sampai ke Pemkot. Selain mudah, prosesnya pun cepat.

Sigit menambahkan pelayanan publik ini, merupakan masalah klasik yang memang sudah saatnya disudahi. Jika dipercaya masyarakat untuk menjadi pemimpin Kota Semarang, pasangan Sibagus akan merombak sistem untuk memudahkan segala kepengurusan. Merancang SOP (standar operasional prosedur) yang jelas agar mengurus segala sesuatu bisa satu pintu.

Dengan begitu, warga tidak perlu bolak-balik dari satu tempat ke tempat lain. Selain merepotkan, juga butuh waktu seharian sehingga kadang harus libur kerja. “Kalau bisa cepat, mengapa harus bertele-tele,” ujar Sigit.

Sigit berharap, program kerjanya bisa diterima masyarakat Kota Semarang agar kedepannya semua lapisan masyarakat bisa menikmati hasil pembangunan dan berhasil menyejahterakan semuanya.(gie/aro)