BANJIR DUKUNGAN: Calon Wali Kota Semarang Soemarmo HS dan istri, Ny Hermin Soemarmo berfoto bersama pendukungnya usai meresmikan Gardu Pemenangan di Kecamatan Pedurungan, Selasa (18/8) malam. (ISTIMEWA)
BANJIR DUKUNGAN: Calon Wali Kota Semarang Soemarmo HS dan istri, Ny Hermin Soemarmo berfoto bersama pendukungnya usai meresmikan Gardu Pemenangan di Kecamatan Pedurungan, Selasa (18/8) malam. (ISTIMEWA)

SEMARANG- Dukungan masyarakat kepada MAZU (Marmo-Zuber) pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang periode 2016-2021 terus mengalir. Kekuatan MAZU untuk memenangkan Pilwalkot yang digelar 9 Desember mendatang pun semakin besar. Hal itu dikarenakan apa yang telah dilakukan Soemarmo HS selama menjabat sebagai wali kota (2010-2012) terbukti mampu membuat Kota Semarang bertambah maju.

Genangan rob dan banjir mulai teratasi, wajah perkotaan tertata dengan baik. Sejumlah hasil kinerja Marmo yang kini telah dirasakan masyarakat adalah, bantaran Banjir Kanal Barat (BKB), penataan area pedestrian Jalan Pahlawan, Simpang Lima, dan masih banyak lagi.

Namun seiring dia tidak menjabat, seakan warisan keberhasilannya tidak diteruskan dengan baik. Hal tersebut menjadi keprihatinan tersendiri. Seperti contoh kondisi BKB yang tak rapi, banyak ditumbuhi rumput liar, lampu penerangan yang padam, fasilitas pendukung yang minim. Kemudian pengerjaan Polder Banger yang hingga kini tidak jelas. Padahal saat pemerintahan Marmo, pemkot sempat mendapat bantuan dari Pemerintah Kerajaan Belanda sekitar Rp 32 miliar untuk menyelesaikan Polder Banger. Namun yang terjadi peluang tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik. Bahkan tahun ini pemkot menganggarkan Rp 50 miliar untuk penyelesaian, tapi juga tidak dikerjakan.

Tidak hanya itu, banyak rencana pembangunan yang tidak sesuai target. Bahkan kualitasnya tidak sesuai spek. Seperti pembangunan Pasar Bulu yang dilakukan lebih dari tiga tahun. Setelah jadi, belum sempat ditempati beberapa titik landasan atau keramik banyak yang sudah mengelupas. Hasilnya memang megah, namun fungsinya tidak optimal. Masih banyak pedagang yang enggan menempati.

“Harusnya pembangunannya itu tidak sampai tiga tahun jadi. Dan itu tinggal bagaimana cara pengelolaannya kalau mau maksimal,” kata Marmo.

Contoh lain revitalisasi pasar tradisional yang tidak berfungsi optimal, seakan muspro adalah Pasar Sampangan.

Tidak ingin kepemimpinannya yang hanya sekadar begitu-begitu saja, masyarakat pun masih berharap kepada Soemarmo yang berpasangan dengan Zuber Safawi bisa terpilih kembali sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang periode 2016-2021.

“Ide-ide Pak Marmo dalam memajukan dan mengatasi persoalan yang ada di Semarang sangat inovatif dan kreatif. Kalau wakilnya yang menggantikan beliau sebagai wali kota itu kan hanya meneruskan tanpa ada gebrakan baru,” terang Yulianti, warga Semarang Tengah.

Sementara itu, dukungan MAZU terus bertambah. Seperti pada Selasa (18/8) malam lalu, Soemarmo meresmikan Gardu Pemenangan di Kecamatan Pedurungan. Selain meresmikan posko, juga ada deklarasi tim pemenangan MAZU. Acara tersebut dihadiri ratusan simpatisan, relawan, dan tim sukses tingkat kelurahan dan kecamatan.

Koordinator pemenangan Subagyo mengatakan, tim dari Pedurungan sangat solid untuk memenangkan pasangan Marmo-Zuber. “Dukungan ini datang dari hati, karena kecintaan kami terhadap Pak Marmo, dan kami kangen dengan gebrakan-gebrakan dari Pak Marmo untuk memajukan Kota Semarang. Meskipun hanya 1,5 tahun memimpin, tapi perubahan nyata sudah sangat terasa,” tegas Subagyo.

Melihat semangat para pendukungnya, Marmo pun terharu sekaligus bangga. Antusias tim dari Pedurungan begitu tinggi. “Tugas pertama kita adalah memenangkan pasangan MAZU, setelah itu kita bersama-sama membangun Kota Semarang. Kota Semarang sudah sangat jauh tertinggal dari kota-kota besar lain. Sebagai ibu kota provinsi, Kota Semarang harus menjadi corong pembangunan, baik itu infrastruktur, SDM, dan sebagainya,” terang Marmo. (zal/aro)