Polisi Segera Tetapkan Tersangka

309
DIRAWAT INTENSIF: Korban Agus Sumarmo saat dibawa ke RS dengan mobil bak terbuka sesaat setelah menjadi korban amum massa. (ISTIMEWA)
DIRAWAT INTENSIF: Korban Agus Sumarmo saat dibawa ke RS dengan mobil bak terbuka sesaat setelah menjadi korban amum massa. (ISTIMEWA)

“Kita masih akan mencari bukti tambahan, selanjutnya menaikkan ke penyidikan dengan menentukan siapa saja tersangkanya.”
AKP Herman Sopian

Kasat Reskrim Polres Semarang

UNGARAN- Buntut amuk massa di objek wisata Kampoeng Rawa, Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, berbuntut panjang. Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Semarang dalam waktu dekat ini akan segera menetapkan tersangka kasus penganiayaan dan pengeroyokan terhadap Ketua koperasi Jasa Pariwisata (Kopjapari) Kampoeng Rawa, Agus Sumarno dan pengawalnya. Hingga kemarin, sudah ada 12 orang saksi yang dimintai keterangan terkait kasus pengeroyokan yang diduga dilakukan warga Desa Bejalen di objek wisata Kampoeng Rawa, Jumat (14/8) lalu.

Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Herman Sopian, mengatakan, kepolisian sebenarnya sudah memprediksi bakal terjadi kasus tersebut. Sebab, sebelumnya sudah ada benih-benih keribuatan di intern Kampoeng Rawa. Sehingga Polres Semarang menerjunkan tim untuk melakukan mediasi. Tujuannya, untuk mencegah timbulkan keributan tersebut.

“Sejak beberapa bulan kita sudah mencoba membantu untuk mediasi. Sebab, kami menilai permasalahan di Kampoeng Rawa ini akan berdampak tidak baik. Ternyata dugaan kami benar, ada kejadian tindak pidana 351 KUHP (penganiayaan) dan 170 KUHP (pengeroyokan) yang dilakukan beberapa warga Desa Bejalen dengan korban Agus Sumarno,” kata Herman kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (18/8).

Menurut Herman, pihaknya masih intensif melakukan penyelidikan. Sementara ini sudah ada 12 orang saksi yang dimintai keterangan. Penyidik juga masih melakukan pengumpulan keterangan dan barang bukti lainnya untuk melengkapi berkas-berkas.

“Kita masih akan mencari bukti tambahan, selanjutnya menaikkan ke penyidikan dengan menentukan siapa saja tersangkanya,” ujarnya.

Sementara itu, korban Agus Sumarno hingga Selasa (18/8) kemarin masih menjalani perawatan intensif di RS Ken Saras di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Sayangnya, wartawan tidak diizinkan untuk melakukan wawancara oleh keluarganya. “Bapak masih sakit, lebih baik jangan diganggu dulu,” ujar Priyani.

Sedangkan pengacaranya, Mugiyono Ahmad, SH, saat dihubungi via telepon sempat menjawab. Namun begitu mengetahui yang menghubungi Jawa Pos Radar Semarang, Mugiyono langsung menutup pembicaraan. Beberapa saat kemudian saat dihubungi kembali telepon Mugiyono off.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di objek wisata Kampoeng Rawa kemarin, aktivitas wisatawan masih berjalan seperti biasanya. Namun kantor Kopjapari sebagai pengelola objek wisata tersebut kosong. Sejumlah pengurus tidak ada di lokasi tersebut, hanya ada karyawan saja yang masih bekerja seperti petugas keamanan, petugas loket dan karyawan restoran. “Saya tidak bisa berkomentar banyak Mas, nanti salah malah jadi masalah. Kalau pengurus sudah pada pergi sejak kejadian itu,” kata salah seorang pegawai Kampoeng Rawa.

Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan warga Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang ngamuk, Jumat (14/8) sore. Ini setelah mereka dilarang masuk ke areal objek wisata Kampoeng Rawa yang lokasinya masih berada di wilayah desa tersebut. Warga yang marah sempat menghajar Ketua Koperasi Jasa Pariwisata (Kopjapari) sekaligus Manajer Kampoeng Rawa, Agus Sumarno, hingga pingsan. Agus Sumarno dan pengawalnya yang turut diamuk massa langsung dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.

Kepala Desa Bejalen, Nowo Sugiharto, mengatakan, keributan di Kampoeng Rawa terjadi pada Jumat (14/8) sore lalu. Peristiwa tersebut merupakan puncak kemarahan warga. Sebab, selama ini tidak ada keterbukaan dalam pengelolaan Kampoeng Rawa. Padahal lahan yang digunakan tersebut milik Desa Bejalen, dan juga ada lahan untuk pertanian warga Tambakboyo. Namun sudah empat bulan tidak ada bagi hasil atas keuntungan bisnis tersebut.

“Lahan yang digunakan itu milik Desa Bejalen, tapi mereka tidak ada itikad baik. Sudah 4 bulan tidak ada bagi hasil ke desa kami, termasuk ke Kelurahan Tambakboyo. Kami sudah berupaya menanyakan hal itu dan berupaya melakukan pembahasan ditengahi oleh Polres Semarang. Upaya kami ini untuk pembenahan, kami ingin ada transparansi pengelolaannya. Tetapi Pak Agus Marno tidak pernah mau hadir untuk membahas hal itu,” kata Nowo.

Praktis, permasalahan tidak kunjung mencapai penyelesaian. Hal itu memaksa pihak Desa Bejalen melayangkan surat untuk pembatalan kerjasama penggunaan lahan tersebut dengan Kampoeng Rawa. Namun hal itu tidak digubris oleh pihak Kampoeng Rawa. Sehingga kepala desa dan beberapa warga berusaha menemui Agus Sumarno untuk meminta kejelasan penyelesaian permasalahan tersebut.

“Saat kami akan masuk, dihadang 9 orang tenaga keamanan dari Kota Semarang dan seorang pengacara. Mereka mengatakan, selain yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Alasannya, tanah itu dalam penguasaan mereka. Padahal saya mau ketemu Pak Agus Sumarno, tapi dilarang. Kami katakan, kalau dilarang masuk, padahal jalan ini sudah ada sejak dulu sebagai jalan usaha pertanian. Tentu saja warga akan tidak terima,” tutur Nowo.

Nowo mengatakan, dirinya tidak dapat mencegah ratusan warga yang sudah marah. Warga semakin marah karena Agus Sumarno mengancam sembari tangannya mengambil benda seperti pistol airsoft gun dari pinggang. “Saya sampai di pendopo Kampoeng Rawa, Pak Marno sudah terkapar dan satu tenaga keamanan sudah terluka. Kemudian saya angkut ke RSUD Ambarawa,” tutur Nowo. (tyo/aro)

Silakan beri komentar.