MALU: Kepala Dinas PSDA-ESDM Kota Semarang Nugroho Joko Purwanto (pakai topi)  saat digelandang ke mobil tahanan Kejati Jateng, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MALU: Kepala Dinas PSDA-ESDM Kota Semarang Nugroho Joko Purwanto (pakai topi) saat digelandang ke mobil tahanan Kejati Jateng, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PLEBURAN-Setelah berhasil lolos dari upaya penahanan dengan alasan sakit diare, kemarin (18/8), tersangka Nugroho Joko Purwanto tak bisa berkutik. Kepala Dinas Pengembangan Sumber Daya Alam-Energi Sumber Daya Mineral (PSDA-ESDM) Kota Semarang itu pun menyusul rekan-rekannya sesama tersangka masuk ke sel tahanan Lapas Kedungpane.

Sebelum ditahan, tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan kolam retensi Kelurahan Muktiharjo Kidul, Pedurungan, Semarang senilai Rp 33,7 miliar ini menjalani pemeriksaan oleh tim penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng. Dia tiba di kantor Kejati Jateng Jalan Pahlawan sekitar pukul 10.00, dan langsung menjalani pemeriksaan hingga pukul 16.00.

Setelah penyidik memastikan kondisinya sehat, Nugroho langsung digiring ke mobil tahanan dengan mengenakan topi dan baju tahanan kejaksaan warna oranye. Dia tidak bersedia memberikan keterangan saat ditanya wartawan yang mengerubunginya. Joko memilih bungkam dan menutup kepalanya.

”Kami melakukan penahanan terhadap tersangka NJP (Nugroho Joko Purwanto) selama 20 hari ke depan di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 A Kedungpane Semarang,” kata Kepala Kejati Jateng Hartadi melalui Kasi Penyidikan Kejati Jateng, Imang Job Marsudi, Selasa (18/8).

Job mengatakan, penahanan tersebut dilakukan dengan alasan secara objektif agar tersangka tidak melarikan diri, dan menghilangkan barang bukti, karena masih aktif sebagai pegawai negeri sipil (PNS).”Alasan subjektif untuk memudahkan penyidikan, serta kejaksaan tidak dinilai tebang pilih, karena tiga tersangka lain telah ditahan,”sebut Job.

Job menyatakan, sebelum dijebloskan ke lapas, tersangka NJP diperiksa penyidik mulai pukul 10.00-16.00. Job juga menyebutkan pada Rabu (12/8) lalu, tiga tersangka korupsi kolam retensi, yakni kontraktor proyek Direktur PT Harmony International Technology (HIT) Handawati Utomo, Komisaris PT HIT Tri Budi Purwanto, dan konsultan direktur CV Prima Design Tyas Sapto Nugroho telah ditahan lebih dulu. ”Sebelumnya, tersangka NJP tidak memenuhi panggilan pemeriksaan karena alasan sakit diare. Ada surat dari dokter juga,”ujarnya.

Menurut Job, tersangka NJP dijerat pasal 2 dan pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat 1 KUHP. ”Kerugian negara dalam kasus korupsi kolam retensi berdasarkan perhitungan oleh tim ahli penyidik Kejati Jateng mencapai Rp 4,7 miliar,” tandasnya. (jks/aro)