KRISIS: Warga di dukuhan Deliksari dan Kalialang Baru harus mencari air bersih sejauh tiga kilometer setiap harinya, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KRISIS: Warga di dukuhan Deliksari dan Kalialang Baru harus mencari air bersih sejauh tiga kilometer setiap harinya, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SUKOREJO – Kekeringan pada musim kemarau menjadi hal yang biasa bagi dukuh Deliksari dan Kalialang Baru. Menjadi biasa lantaran, hingga kini kekeringan di dua dukuhan tersebut tidak menjadi perhatian serius dari pemerintah Kota Semarang.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di lapangan, jalan berdebu dan tanah retak-retak menjadi pemandangan yang wajar ketika menuju dukuh tersebut.

Salah satu warga dukuh Kalialang Baru RT 01 RW 07, Tuminem, setiap hari harus berjalan sejauh 3 kilometer mencari sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan memasak minum dan MCK. Tidak hanya Tuminem, aktivitas tersebut juga dialami seluruh warga di dukuh Kalialang Baru. Menggunakan pikulan dengan ember bekas cat, ia setiap harinya jalan bolak-balik dari rumah ke sendang yang merupakan sumber mata air di kelurahan itu.

“Setiap hari seperti ini. Kalau tidak di panggul, nanti minum, mandi, pakai air apa. Di kelurahan ini memang kesulitan air. Ini terjadi sudah dari dulu kalau musim kemarau tiba. Warga sekitar juga setiap hari aktivitasnya juga seperti ini. Tidak terasa berat lantara ngambil airnya bareng-bareng warga sekitar,” kata Tuminem, Senin (17/8).

Hal senada juga dialami oleh warga Dukuhan Deliksari RT 6 RW 6, Sukadi. Sedikit berbeda dari Tuminem, Sukadi setiap harinya mengambil air sembari menaiki sepeda yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat mengangkut beberapa jeligen. Dikatakan Sukadi, pihak warga sebenarnya sudah mengajukan bantuan ke PDAM Kota Semarang dan Pemerintah Kota Semarang terkait krisis air di daerahnya.

Dari Pemerintah Kota Semarang, lanjutnya, sebenarnya sudah memberikan bantuan berupa air dari truk tangki. Namun datangnya hanya dua hari sekali. Itu pun yang datang hanya satu truk. Sehingga kebutuhan air bersih warga setempat masih belum bisa dicukupi dengan baik. Ia berharap, Pemerintah Kota Semarang benar-benar serius dan tanggap terkait masalah krisis air di dukuhan tersebut. Air sebagai kebutuhan dasar hidup manusia memang tidak bisa disepelekan.

Sementara itu, Ketua RW 06 Dukuh Deliksari, Supangat mengatakan aktivitas mengambil air di sendang oleh warga dua dukuhan memang sudah menjadi hal biasa. Terlebih memasuki musim kemarau seperti ini dimana kebutuhan air meningkat namun ketersediaannya semakin menipis. (ewb/zal)