Gelar Teatrikal, Lansia Upacara di Panti

358

UPACARA HUT RI di Panti Jompo

CINTA INDONESIA: Seorang lansia penghuni Panti Wreda Elim Yayasan Pelkris Semarang saat  mengikuti upacara bendera HUT Kemerdekaan RI ke-70, kemarin. (kanan) Aksi teatrikal seni drama pemuda Indonesia oleh Tiram Community yang digelar di halaman Balai Kota Semarang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CINTA INDONESIA: Seorang lansia penghuni Panti Wreda Elim Yayasan Pelkris Semarang saat mengikuti upacara bendera HUT Kemerdekaan RI ke-70, kemarin. (kanan) Aksi teatrikal seni drama pemuda Indonesia oleh Tiram Community yang digelar di halaman Balai Kota Semarang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEKAYU- Banyak cara dilakukan untuk mempringati HUT Kemerdekaan RI ke 70, salah satunya dengan menggelar aksi teatrikal seni drama pemuda Indonesia. Teaterikal oleh Tiram Community binaan Kodim 0733/BS Semarang itu mampu menyita perhatian peserta upacara yang digelar di halaman Balai Kota Semarang. Dalam upacara tersebut juga dihadiri oleh calon Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Soemarmo HS.

Teatrikal seni drama pemuda Indonesia tersebut menceritakan bagaimana pemuda Indonesia meraih kemerdekaan dengan berjuang dengan tentara Jepang. Dengan menggunakan bambu runcing penjajah di Indonesia dapat ditumpas habis. “Meskipun dengan menggunakan bambu runcing, tetapi karena semangatnya yang tinggi berhasil mengalahkan tentara Jepang,” ungkap Komandan Kodim 0733/BS Semarang, Letkol Kav Puji Setino, kemarin

Dalam teatrikal tersebut digambarkan perjuangan para pahlawan Indonesia masa dulu saat ikut merebut kemerdekaan patut untuk dicontoh dan diterapkan pada generasi muda saat ini. “Yakni semangat pantang menyerah dan terus mengobarkan persatuan dan kesatuan adalah bukti di mana pemuda dapat mengambil peran lebih dalam membangun bangsa,” akunya.

Setelah terjadi baku hantam, katanya, terdapat dua bocah menangis mencari kedua orang tuanya, yang kemudian ditemukan dalam keadaan sudah meninggal dunia.”Jadi diceritakan setelah terjadi baku tembak dengan penjajah, banyak yang tewas dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Saat itu datang dua anak-anak yang mencari orangtuanya ternyata ditemukan telah gugur,” lanjutnya.

Saat disinggung persiapan tampil, Letkol Kav Puji Setino mengatakan membutuhkan waktu dua bulan. “Penampilan teaterikal tersebut mampu menyita perhatian pejabat yang hadir,” ungkapnya.

Upacara memperingati kemerdekaan RI ke-70 oleh Pemkot Semarang kemarin berlangsung khidmat. Pj Wali Kota Semarang, Tavip Supriyanto bertindak sebagai pembina upacara. Dalam amanatnya, dia mengucapkan terima kasih kepada veteran, karena telah berjuang dengan sungguh-sungguh demi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Ia juga mengajak seluruh peserta upacara mensyukuri momentum peringatan kemerdekaan. Dengan mengimplementasikan semangat perjuangan para pahlawan melalui berbagai upaya nyata sesuai tugas dan posisi masing-masing.

Tavip mengajak warga Kota Semarang untuk senantiasa menjaga kondusivitas terutama menjelang pesta demokrasi 9 Desember mendatang. ‘’Sikap kedewasaan berpolitik harus senantiasa dijaga untuk terwujudnya kerukunan serta persatuan,’’ katanya.

Tema yang diangkat dalam upacara kali ini adalah Ayo Kerja. Maka dari itu, Tavip meminta kepada masyarakat untuk bekerja keras demi kemakmuran bangsa. Selain itu, Tavip menekankan bahwa kerja yang dilakukan tersebut harus dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan.

Sementara itu, puluhan lansia di Kota Semarang, kemarin ikut menyemarakkan peringatan 70 tahun Indonesia merdeka dengan melakukan upacara bendera di Panti Wreda Elim Yayasan Pelkris Jalan Dokter Cipto No 132 Semarang.

Kegiatan ini selain untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI juga sebagai wujud semangat para lansia dalam menjalani kehidupan. Pada peringatan HUT tersebut terlihat puluhan lansia penghuni panti wreda ramai berkumpul di halaman sembari duduk di kursi roda, dan berbaris rapi.

Meski berusia lanjut, para lansia tetap kuat mengkuti jalannya upacara hingga selesai, bahkan mereka masih bersemangat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya ketika bendera sang saka merah putih dikibarkan.

“Dengan mengikuti kegiatan tersebut, mereka sangat senang karena mampu menggugah memori di kala muda,” ungkap Evalina, 65, kemarin.

Pimpinan Unit Panti Wreda Elim, Slamet Basuki, mengatakan, panti Wreda tak hanya mengadakan upacara bendera, namun juga menyajikan drama bertema perjuangan. “Di Panti Wreda Elim Yayasan Pelkris Semarang ini dihuni oleh 61 orang lansia dan sebagian dari mereka adalah saksi hidup dan pernah mengalami kepahitan masa penjajahan,” katanya. (hid/aro)