Tinggal di Rumah Milik Perusahaan Belanda

301
HORMATI KAKEK: Natalia Bunga Nadine Emmanuella merapikan seragam dan lencana sang kakek, Hardijono, mantan pejuang gerilya bambu runcing. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HORMATI KAKEK: Natalia Bunga Nadine Emmanuella merapikan seragam dan lencana sang kakek, Hardijono, mantan pejuang gerilya bambu runcing. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

HARI ini, tepat 70 tahun Indonesia merdeka. Setiap merayakan kemerdekan, kita perlu mengingat perjuangan para pahlawan yang dulu ikut berperang. Namun rupanya tak sedikit mantan pejuang yang kurang mendapat perhatian. Bahkan hingga usia senja, banyak yang belum memiliki rumah tinggal. Atapun memiliki rumah namun jauh dari layak.

NAMANYA Hardijono. Saat ini, ia tinggal di sebuah rumah sederhana di gang buntu, Jalan Tentara Pelajar 23 Kota Semarang. Ia merupakan saksi sejarah yang terlibat langsung dalam perang mengusir penjajah Belanda di Kota Semarang, dalam kurun waktu sebelum 1945 silam. Ia mantan pejuang gerilya bambu runcing.

Jawa Pos Radar Semarang kemarin diterima dengan ramah di rumah tinggalnya. Di usia 89 tahun, Hardijono masih tampak sehat. Terlihat giginya sudah ompong. Namun semangat dan sorot matanya masih tajam. Kakek renta itu juga masih mampu menceritakan sepenggal kisah masa silam saat merebut kemerdekaan.

“Saat itu, para pemuda semuanya kompak turut berjuang untuk mengusir penjajah. Tidak memandang miskin, kaya, ataupun agama apa saja, semua ikut berjuang. Saya sendiri ikut gerilya. Senjata awalnya bambu runcing, sabit, dan bendo (sejenis golok),” cerita Hardijono kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (16/8).

Dikisahkan, dirinya saat itu berusia 18 tahun, bergabung dengan para pemuda lain untuk mempertahankan kereta api di Stasiun Kereta Api Alas Tua Semarang, yang kemudian dijadikan markas. “Saat itu, kami bergabung dengan Djawatan Kereta Api, kemudian namanya berubah menjadi Pemuda Kereta Api (PKA). Selain itu juga ada Tentara Pelajar. Semua berjuang mengusir penjajah,” beber Hardijono.

Ia sendiri bersama satu angkatannya bergerilya untuk mencari markas penjajah Belanda. Siang malam, yang ada di benak hanya bagimana cara mengusir penjajah. “Tidak ada rasa takut sedikitpun. Yang ada di benak, Belanda harus pergi dari sini,” katanya didampingi salah satu cucunya, Natalia Bunga Nadine Emmanuella.

Dikatakannya, pejuang gerilya itu kalau siang tidak ada satu pun yang kelihatan atau menunjukkan fisik pejuang. Sebab, mereka jika siang menyaru sebagai pedagang untuk mencari tahu markas penjajah. “Kalau siang hilang semua, mereka mencari markas musuh dengan menyamar sebagai pedagang. Para pejuang bisa memiliki senjata setelah berhasil merampas senjata milik penjajah Jepang. Senjatanya laras panjang, masih manual. Tembakannya satu-satu. Kalau milik Belanda sudah otomatis, tembakan bisa memberondong,” bebernya.

Lebih lanjut dikatakan Hardijono, jika diumumkan besok pagi akan ada serangan, semua dikumpulkan untuk menyusun strategi. “Senjata dibawa semua. Saat itu terjadi penyerangan terhadap penjajah Belanda di dekat pabrik rokok BAT Kaligawe Semarang. Itu juga banyak korban,” kenangnya.

Dia mengaku, para pejuang juga dibekali ilmu kekebalan tubuh. Saat itu, para pejuang digembleng terkait kekebalan tubuh tersebut di Solo. “Ditusuk pakai senjata tajam di perut aja ya nggak mempan, di tangan juga tidak apa-apa. Enggak tahu, saat itu ya yakin saja. Kuncinya pejuang itu jujur. Kalau jujur selamat,” katanya.

Hidup para pejuang gerilya mengembara di mana-mana, di sawah-sawah, kebun, dan hutan. Bahkan mereka hanya berbekal tekad yang membara demi Indonesia merdeka.

“Hanya punya celana satu, baju satu, dan sepasang sepatu. Kalau dicuci ya hanya pakai celana dalam saja. Menunggu sampai kering. Biasanya dijemur di sawah,” kenangnya sambil terkekeh.

Saat ini, setahu dia, semua kawan-kawan seperjuangan seangkatannya telah meninggal. Setelah Indonesia merdeka, ia berkarir sebagai anggota TNI. Hardijono di usia 25 tahun, pada 1951 menyunting gadis bernama Sudarmi hingga dikaruniai empat orang anak. Namun pada 1959, Sudarmi dipanggil untuk selama-lamanya. Hardijono kemudian menikah untuk kedua kalinya dengan Basimah yang juga dikaruniai empat orang anak. Basimah sendiri juga sudah meninggal di usia 73 tahun.

Dijelaskannya, semua pejuang saat itu, setelah kemerdekaan RI secara otomatis diangkat menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), kemudian diubah menjadi Tentara Rakyat Indonesia (TRI), sebelum akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). “Saya pernah ditugaskan di Irian Barat, dan Ambon. Pensiun pada tahun 1976,” akunya.

Saat ditanya, pernahkah mendapat penghargaan dari pemerintah setelah Indonesia merdeka? Hardijono tertegun sembari menghela nafas panjang. “Sampai saat ini saya belum pernah mendapat penghargaan sama sekali dari pemerintah. Baik dari Provinsi Jateng, maupun Pemerintah Kota Semarang. Saya mendapat penghargaan Bintang Gerilya dari TNI,” ungkap pria yang memiliki pangkat terakhir Mayor itu.

Bahkan ia mengaku, sejak menjadi pejuang kemerdekaan RI hingga sekarang, Hardijono mengaku belum pernah mempunyai rumah yang berstatus milik sendiri. “Rumah yang saya tempati, statusnya milik PT Fligga (sebuah perusahaan Belanda). Dulu statusnya mengontrak sejak 1954. Rumah ini dulunya kosong, karena ditinggal pemiliknya pulang ke Belanda. Saya dulu setiap bulan membayar kontrakan sebesar Rp 35, bayarnya lewat bank.” terangnya.

Namun sejak 1964 silam, pembayaran itu terputus sampai sekarang. PT Fligga telah bubar. “Waktu itu saya ditemui orang yang dikuasakan oleh PT Fligga, Bapak Chan, mengatakan secara lisan; meskipun rumah itu belum hak milik bapak, tapi bisa ditempati sampai turun temurun. Itu kata-kata Pak Chan,” bebernya.

Dia berharap kepada pemerintah saat ini, agar tidak lupa akan sejarah. Termasuk jasa-jasa para pejuang terdahulu.

“Pemerintah harus meneruskan perjuangan secara adil. Selalu bekerja sama dengan baik. Jangan gontok-gontokan. Agar Indonesia benar-benar adil, makmur dan sejahtera. Para koruptor supaya sadar, harus berhenti, jangan mencari keuntungan sendiri. Ingat para pejuang yang telah berkorban jiwa dan raga untuk rakyat agar bisa hidup merdeka,” katanya. (abdul mughis/aro)