SEMARANG – Minat menulis generasi muda harus lebih dikembangkan. Hal itu dikatakan oleh Stebby Julionatan, salah seorang penulis buku yang berisi sajak-sajak berjudul Biru Magenta saat diskusi dan bedah buku miliknya di sebuah toko buku di Semarang, kemarin. Menurutnya, menulis merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan.

“Dengan menulis kita dapat meluapkan isi hati kita, isi pikiran kita. Menulis merupakan salah satu cara untuk menghilangkan stres di dalam otak kita. Saat ini, di kota kelahiran saya saja belum banyak komunitas penulis. Di beberapa kota lain juga demikian,” kata Stebby, Minggu (16/8).

Kondisi tersebut menurutnya sangat miris. Mengingat sekarang perkembangan media untuk menulis semakin pesat namun tidak diimbangi dengan meningkatnya budaya menulis terutama di kalangan remaja. Banyak hal yang dapat dipelajari dari aktivitas menulis.

“Kita bisa menuangkan apa yang kita fikirkan ke dalam sebuah tulisan itu merupakan sesuatu yang sangat mengasyikan. Banyak orang yang tidak menyadari akan hal itu. sehingga menurut kebanyakan orang, menulis merupakan aktifitas yang sangat menjenuhkan,” lanjutnya.

Di Kota Semarang, geliat menulis oleh generasi mudanya sudah mulai terlihat. Hal tersebut, katanya, terlihat dari berbagai komunitas menulis yang terbentuk. Salah satu cara menjadikan menulis sebagai sebuah budaya yaitu melalui jalur pendidikan.

“Budaya menulis bisa kita tanamkan melalui pendidikan. Terutama di sekolah-sekolah. Sejak dini, siswa harus dikenalkan dengan aktivitas menulis. Seperti halnya jenjang Taman Kanak-kanak. Setiap harinya mereka bisa untuk dibiasakan menulis aktivitas yang mereka lakukan melalui sebuah tulisan sederhana,” tuturnya.

Penulis asal Probolinggo Jawa Timur tersebut, kini sudah menelorkan tiga karya buku. Menulis baginya merupakan sebuah passion spiritualitas untuk selalu dilakukan. Entah nanti berwujud novel, cerpen, maupun kumpulan puisi.

Diskusi dan bedah buku tersebut juga diikuti oleh beberapa penulis dari Kota Semarang, antara lain Aulia Muhammad. Pengajar Ilmu Puisi dan Sastra di Rumah Media ini mengatakan penyair harus mampu mengubah kata biasa menjadi luar biasa. “Contohnya, ketika seorang penyair melihat daun yang dimakan oleh ulat. Seorang penyair harus melihat sisi lain dari aktivitas tersebut. bukan hanya melihat sebagai aktivitas memakan,” katanya.

Daun yang dimakan oleh ulat tersebut, lanjutnya, bisa juga diartikan seperti cinta. Bentuk cinta sehelai daun kepada seekor ulat yang nantinya akan menjadi kupu-kupu setelah ulat tersebut memakannya. Melihat sisi lain seperti itulah, seharusnya seorang penyair. (ewb/ric)