BARUSARI – Aparat penyidik Polrestabes Semarang ’bingung’ menjerat pasangan mahasiswa Akademi Keperawatan (Akper) di Kota Semarang berinisial RM, 20, dan EL, 20, yang diduga mencoba melakukan aborsi. Pihak penyidik kesulitan dalam pembuktian dugaan aborsi tersebut lantaran kondisi bayi yang dilahirkan paksa dalam kondisi selamat. Praktis, dua pelaku, yakni RM, warga Salatiga dan EL, warga Mijen Semarang pun tidak dilakukan penahanan. Hingga kemarin, keduanya masih berstatus sebagai saksi.

”Tidak dilakukan penahanan. (Keduanya) masih berstatus sebagai saksi,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Sugiarto ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Mapolrestabes Semarang, Jumat (14/8).

Dikatakan Sugiarto, pihaknya sejauh ini masih melakukan pendalaman penyelidikan terhadap kasus dugaan aborsi tersebut. ”Masih sulit dibuktikan, kami masih mendalami,” ujarnya.

Mengenai indikasi-indikasi dugaan aborsi yang ditemukan di lokasi kejadian, kata Sugiarto, masih belum bisa menguatkan bukti-bukti. Sehingga pihaknya belum berani menetapkan tersangka dalam kasus ini.

”Sejauh ini belum memenuhi unsur (aborsi). Kondisi bayi juga masih hidup,” terang Sugiarto.

Pengakuan pelaku terkait penggunaan obat penggugur kandungan itu pun belum bisa menguatkan di mata hukum. ”Kandungan umur 7 bulan itu bisa dilahirkan tanpa menggunakan obat. Bagaimana bisa membuktikan kalau bayi lahir tersebut akibat penggunaan obat?” katanya.

Karena itu, lanjunya, untuk menguatkan pembuktian dalam kasus ini dibutuhkan visum dari dokter. Untuk memperoleh visum dokter dalam kasus sejenis ini tidak mudah. ”Satu-satunya yang bisa menguatkan adalah visum dari dokter. Tapi untuk mendapat visum itu tidak mudah,” tambah Wakasat Reskrim Kompol Sukiyono.

Sukiyono membenarkan, pasal yang digunakan tetap menggunakan pasal 346 KUHP, yakni seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama 4 tahun. Namun demikian, sejauh ini, kasus tersebut dinyatakan belum memenuhi unsur pidana aborsi.

Pihak kepolisian sepertinya memberi sinyal adanya kemungkinan penyelesaian secara kekeluargaan dengan pertimbangan bahwa bayi tersebut tidak meninggal. ”Secara sosial, (penyelesaiannya) kalau kedua belah pihak keluarga menyetujui dan keduanya bersedia menikah demi merawat bayi tersebut, kami bisa apa? Sedangkan kasus ini belum memenuhi unsur (pidana),” tambah Sugiarto.

Kendati demikian, Sugiarto mengaku masih terus melakukan pendalaman penyelidikan terhadap kasus ini. ”Kami dalami dulu,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang mahasiswi salah satu Akademi Keperawatan (Akper) swasta di Kota Semarang diketahui hendak melakukan aborsi dengan cara menenggak obat penggugur kandungan yang dijual secara online. Namun upaya aborsi gagal. Bayi justru lahir selamat meski usia kehamilan masih tujuh bulan. Bayi laki-laki mungil tersebut dilahirkan secara paksa oleh ibunya seorang diri di dalam kamar kos. Diduga karena bingung, bayi tersebut kemudian dibungkus kardus minyak goreng dan diletakkan di samping minimarket tak jauh dari Rumah Sakit Telogorejo Semarang, Kamis (13/8) dini hari oleh si ayah bayi berinisial RM, juga mahasiswa Akper yang sama.

RM kemudian bersandiwara seolah-olah menemukan bayi tersebut dari pengendara motor tak dikenal. Ia menyerahkan kardus berisi bayi tersebut kepada salah satu petugas keamanan di RS Telogorejo Semarang, diteruskan ke Polsek Semarang Tengah. Usut punya usut, RM ternyata pria yang membuang bayi tersebut.

Kepada polisi, dia akhirnya mengakui bahwa bayi tersebut dilahirkan oleh seorang mahasiswi Akper berinisial EL, yang tak lain adalah kekasihnya. Polisi sempat menggeledah rumah kos RM di daerah Kagok Dalam, Candisari, Semarang. Bayi tersebut merupakan hasil hubungan gelap RM dengan EL.

EL mengaku membeli obat penggugur kandungan melalui online seharga Rp 1,5 juta. Obat tersebut diambil di Solo oleh RM. EL sendiri melahirkan bayi berumur 7 bulan di tempat kosnya, berdekatan dengan kos RM. Keduanya sempat digelandang aparat Reskrim Polsek Semarang Tengah sebelum akhirnya diserahkan ke Mapolrestabes Semarang. Namun pihak Polrestabes Semarang justru tidak bisa membuktikannya. Hingga kemarin, bayi tak berdosa tersebut masih dirawat di ruang ICU RS Telogorejo. (amu/aro/ce1)